Teknologi Membaca

Kekhawatiran yang beberapa tahun lalu saya tulis kini makin terasa. Bisa kita amati, anak-anak muda dengan range usia 15–24 tahun kini tampaknya mulai mengalami kesulitan dalam membaca. Bukan malas membaca, tapi intensitas  — atau boleh dibilang: kedalaman —  membaca makin terus berkurang. Jarang ditemukan pemandangan anak-anak muda berjalan membawa novel atau duduk tekun di halte bus membaca majalah, layaknya pemandangan seperti masa kuliah saya dulu. Saat itu, hampir pada setiap waktu jeda atau istirahat, banyak orang masih memegang buku sambil berdiri ngobrol. Kadang mereka saling diskusi atau tukar menukar literatur. Saya masih merasakan, nuansa saat dulu membaca novel Pramoedya Ananta Toer, atau Madilog karya Tan Malaka. Continue reading “Teknologi Membaca”