Berlomba dan Bertanding

Mengingat kembali cerita seorang kawan mengenai persaingan antar Warteg (warung tegal) satu dan yang lain, menyadarkan saya bahwa sulit menjadi setan apalagi berperan sebagai partner setan, dukun. Saya justru merasa kasihan dengan mereka.

Bagaimana tidak, mereka saling menjatuhkan, mengirim keburukan dari satu ke yang lain untuk menunjukkan siapa yang lebih sakti. Siapa yang lebih ampuh mantranya. Ukurannya: Warteg mana yang lebih ramai didatangi. Dukun yang satu melukai dukun yang lain, karena dianggap sebagai pesaing. Pesaing tidak boleh ada, bagi mereka. Kalaupun ada, pesaing harus lemah, sempit gerakannya. Jika diperlukan, disamarkannya oleh sang dukun, si asisten setan ini, agar makanan enak tampak jadi makanan busuk.

Continue reading “Berlomba dan Bertanding”