No Worry On War

Tergoda untuk menulis saat jam sudah menunjuk angka satu, sesaat setelah membaca tulisan ‘damainya perang’. Tulisan saya di bawah hanya sekelebat yang muncul di hati dan pikiran saja. Sangat berpotensi untuk salah. 

Agak sulit mencari darimana bahasa Indonesia menyerap kata perang sehingga masuk dalam perbendaharaannya. Atau mungkin saja ada hubungannya dengan kata perangai karena mirip. Seperti kata senjata yang diambil dari bahasa sanskrit atau jawa kuno yaitu sajitta. Dan menariknya hingga tulisan ini dibuat, penulis masih dibingungkan dengan kata sagitta/sagittae yang juga terdapat pada bahasa yunani kuno yang berarti anak panah atau arrow yang juga diterjemahkan menjadi senjata. Lalu siapa mempengaruhi siapa tentu tidak perlu diperdebatkan, bagi saya tentu saja bahasa Jawa kuno yang mempengaruhi Yunani kuno.  Continue reading “No Worry On War”

Badar

Kejadian perang Badar merupakan pertarungan terakhir umat Islam di Madinah waktu itu, ketika itu Abu Lahab, Abu Sofyan berangkat dari Syam menuju Mekkah kemudian ‘kencan’ untuk perang di lembah Badar.

Pasukan Islam hanya seperenam dibanding pasukan Abu Jahal. Jarak tempuh Madinah ke Lembah Badar sekitar 230 km kalau jalan kaki biasa. Ketika itu pasukan Rasulullah berjalan kaki dari Madinah ke lembah Badar sejauh itu tanpa alas kaki, diatas bebatuan dan pasir yang panas dengan suhu sekitar 44 derajat celcius. Tanpa teh botol, aqua, tanpa kacang rebus. Dengan keadaan alam yang berat dan kondisi fisik yang amat melelahkan selama perjalanan seperti itulah, perang Badar terjadi. Continue reading “Badar”