Menjadi yang Dipimpin

Sejak kecil hingga sekolah dan kuliah, yang terus ditanamkan di kepala adalah “bagaimana menjadi pemimpin”. Kita didorong untuk menjadi pemimpin di segala bidang, bahwa orang yang sukses adalah saat dia menjadi yang terdepan, terhebat dan dicontoh banyak orang. Tidak. Hal itu tak selalu benar. Justru sebelum menjadi pemimpin, kita mestinya sudah lulus tentang bagaimana menjadi orang yang dipimpin. Satu hal inilah yang justru jarang ditanamkan.

Ada banyak cara meng-create seseorang untuk menjadi pemimpin, salah satunya adalah dengan tidak menjatuhkan wibawanya di depan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak sulit mencari pemimpin, yang lebih sulit adalah mencari orang-orang yang mau dipimpin. Ketika semua orang merasa dirinya mampu dan tak bisa menempatkan diri, disitulah biasanya banyak terjadi benturan. Saling serobot dan saling menonjolkan peran dan eksistensinya.

Saat anda memilih pemimpin, pastikan anda punya ketaatan. Taat bukan berarti takluk, tapi ketaatan itulah yang membuat pemimpin lebih mudah mengorganisir, mengaplikasikan strateginya untuk meraih tujuan-tujuan bersama.

Dan percayalah, seberapa hebat bakat anda, tanpa organisasi itu semua tak akan banyak berarti. Pahami, bahwa setiap kebaikan yang terorganisir akan membawa manfaat yang lebih besar.


 

Pemilihan Dirut NKRI

Sekilas saya menulis. Memperhatikan maraknya diskusi mengenai capres akhir-akhir ini, bolehlah dikatakan “diskusi” karena saya malas menggunakan kata “twittwar” atau “debat kusir” karena saya menghargai semua pendapat. Baik atau buruk, benar atau salah, musti dihargai sebagai bagian dari proses tumbuhnya kesadaran setiap individu.

Tulisan ini juga bukan untuk mendukung salah satu capres, sebab saya tak terlalu peduli dengan menu pencapresan di restoran demokrasi Indonesia. Peduli, tapi tak terlalu peduli. Masuk ke pikiran tapi cuma di teras-terasnya saja, gak sampai masuk ke kamar tidur, apalagi masuk ke hati saya. Dilarang.

Continue reading “Pemilihan Dirut NKRI”

Kepala Pemimpin

Sampai tulisan ini dibuat, saya belum menemukan kata pemimpin dalam konstitusi negara kita. Yang ada hanya kata presiden, kepala negara, kepala pemerintahan, dll. Presiden terpilih kita nanti, bukan pemimpin, menurut konstitusi. Dia ‘hanya’ kepala pemerintahan dan kepala negara (head of government and head of state) yang fungsinya mengepalai organisasi pemerintahan dan negara. Kontitusi juga tidak terlalu jelas mendefinisikan apa negara dan apa pemerintahan.

Dikenal juga istilah lain yaitu negeri yang sebenarnya adalah bahasa budaya. Seperti, karyawan pemerintah disebut Pegawai Negeri Sipil (PNS), bukan Pegawai Negara Sipil atau Pegawai Pemerintah Sipil, tidak heran jika mereka/PNS itu sendiri sering kurang tahu harus lebih taat kepada pemerintah atau kepada negara atau kepada negeri. Continue reading “Kepala Pemimpin”