Lucu ”Agawe Santosa”

Oleh: Indra Tranggono

Tahun politik 2019 (pemilihan legislatif dan presiden) bakal menguras energi bangsa. Blok-blok politik menguat. Tensi politik meninggi. Ketegangan antarkubu meningkat. Narasi penuh kekerasan bertaburan. Gesekan sosial pun berpotensi meledak. Kemenangan dalam kontestasi itu jadi pertaruhan besar. Peradaban bangsa pun terancam robek.

Seluruh elemen bangsa ini membutuhkan kedewasaan, di antaranya dengan mencipta ruang-ruang dalam pikiran dan jiwa agar kemarahan tidak mudah berkobar. Salah satunya melalui humor.

Jangan sepelekan humor! Humor tak hanya mampu menetralisasi stres dan amarah, tetapi juga membebaskan manusia dari kesempitan cara pandang dan kesumpekan hati sehingga menemukan dunia alternatif dan  nilai-nilai baru. Selain itu,  humor juga mendidik manusia untuk selalu rendah hati. Menertawakan diri sendiri atas berbagai kelemahan, keterbebasan, dan kekonyolan. Tidak jemawa. Tidak semena-mena terhadap manusia lain. Selalu eling (sadar diri secara etik) dan waspada (ketajaman pikiran dan batin dalam menentukan langkah). Tidak gampang terhasut. Selalu menimbang, memilih, dan memilah berdasarkan akal sehat dan hati nurani. Mampu membedakan antara yang artifisial dan yang substansial.

Hidup membutuhkan sikap semeleh (kelapangan hati dan pikiran yang menciptakan rasa damai) dalam menyikapi kenyataan. Rileks. Kritis. Mampu menertawakan kenyataan. Dalam konteks lebih luas, humor dan segala kelucuannya mampu menjadi perekat bangsa. Wajar jika orang pun bilang, lucu agawe santosa.

Jarak politik

Bangsa-bangsa yang berperadaban tinggi cenderung memiliki selera humor yang baik. Persia melahirkan Abu Nawas (756-814), penyair dan sosok bijak dan kocak. Turki melahirkan Nasrudin Hodja, sufi satririkal yang meninggal pada abad ke-13. Inggris melahirkan Charlie Chaplin (1889-1977). Rusia melahirkan cerita-cerita humor yang getir. Ini menunjukkan, humor merupakan bagian penting dari kebudayaan dan peradaban bangsa.

Bagaimana Indonesia? Sejak reformasi 1998 bergulir, sebagian besar anak bangsa kita kian sulit tersenyum dan tertawa. Seperti harga bahan kebutuhan pokok, darah mereka gampang naik. Mereka sangat sensitif terhadap kata, frasa, ujaran, wacana atau teks yang dianggap memiliki potensi ancaman atas cara pandang, pemahaman, dan penghayatan politik serta primordialnya.

Masyarakat kita cenderung bersumbu pendek. Gampang tersinggung, terprovokasi, dan meledakkan amarah. Kebiasaan itu bukan hanya dimiliki kaum akar rumput, juga kelompok elite politik, antara lain, yang suka pamer amarah di televisi.

Budayawan Umar Kayam pernah bercerita tentang suporter sepak bola Persis Solo dan suporter PSIM Yogyakarta yang sama-sama menyaksikan pertandingan kedua kesebelasan itu. Ini terjadi pada 1950-an.  Kita tahu hubungan Persis Solo dengan PSIM Yogya kurang harmonis, antara lain, karena sisa-sisa sentimen Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi kekuasaan Mataram menjadi dua, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Ketika pemain PSIM berhasil memasukkan gol ke gawang Persis, pendukung Persis tidak marah. Mereka justru diam. Sementara pendukung PSIM bersorak-sorai. Namun, giliran Persis mampu bikin gol ke gawang PSIM, kontan para pendukung Persis  mengeluarkan belangkon ala Yogyakarta yang punya ”mondolan” (bulatan sebesar telur asin yang ada di bagian belakang belangkon). Apa yang dilakukan? Suporter Persis nylenthiki ”mondolan” itu, sambil bilang, ”Kapok ora… kapok ora.” Kontan semua penonton tertawa. Pertandingan pun berlanjut dengan gayeng, ramai, menyenangkan, damai, dan penuh sportivitas.

Kasus di atas jadi indikator betapa masyarakat Solo dan Yogya waktu itu masih memiliki selera humor tinggi. Kepahitan hidup akibat konflik kekuasaan tidak serta-merta merembes menjadi konflik horizontal penuh amuk dan kekerasan. Masyarakat mampu mengambil jarak politik dan melakukan transendesi. Di situ, humor dipilih sebagai jalan pembebasan.

Pada 1950-an- 1980-an, kemampuan masyarakat kita dalam menertawakan diri sendiri dan keadaan masih terasa. Pada rentang waktu itu di Yogyakarta lahir dagelan Mataram (Basiyo dkk), Srimulat pimpinan Teguh Raharjo; kuartet Bing Slamet, Ateng, Iskak, dan Edi Sud; grup lawak Mang Udel dan kawan-kawan di Bandung, hingga Warung Kopi, Dono, Kasino, dan Indro (Warkop DKI). Grup-grup lawak bisa menjadi penanda kebudayaan tentang masyarakat yang memiliki selera humor tinggi.

Kita punya penulis-penulis hebat yang mampu menghadirkan refleksi, kontemplasi dengan cara cerdas dan lucu melalui kolom-kolomnya. Sebut, misalnya, Umar Kayam, Mahbub Djunaidi, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur),  Satjipto Wirosardjono, Arwah Setiawan, dan Emha Ainun Nadjib.

Humor itu subversif

Dalam kebudayaan, humor tidak sebatas banyolan, tetapi sebuah nilai yang lahir dari cara pandang atau cara berpikir yang mampu menciptakan versi lain dari versi besar (umum) atas realitas kehidupan. Karena itu, humor bersifat subversif.

Humor ”menghancurkan” atau mendekonstruksi pikiran yang beku dan mapan untuk melahirkan realitas kemungkinan yang menggedor akal pikiran dan meledakkan tawa. Artinya, kekuatan humor adalah permainan logika, keluasan wawasan, dan keliaran imajinasi. Tinggi-rendahnya selera humor bergantung  mutu kebudayaan, kematangan jiwa, dan  imajinasi bangsa.

Tahun politik membutuhkan kemampuan  mentransendensi melalui humor agar masyarakat menemukan kekayaan cara pandang dan kelapangan hati untuk menyikapi pelbagai banalitas politik. Kelucuan yang diproduksi humor mampu mencairkan ketegangan, bahkan mempererat persaudaraan bangsa menjadi kuat.

Jika ada pameo ”rukun agawe santosa”, maka muncul pula wisdom ”lucu agawe santosa” alias kelucuan melahirkan kekuatan jiwa bangsa, terutama saat menghadapi keadaan kritis, genting seperti tahun politik.

Artikel ini telah tayang di Kompas.id, dengan judul “Lucu Agawe Santosa”, https://kompas.id/baca/opini/2018/06/02/lucu-agawe-santosa/