Politik Genderuwo

Sebenarnya, politik genderuwo atau politik yang menakut-nakuti juga diperlukan dalam kadar tertentu. Seperti baru-baru ini, kita tak ingin kembali ke masa orde baru, maka perlu dibangkitkan lagi rasa-rasa, data-data, cerita-cerita di masa lalu yang menimbulkan ketakutan-ketakutan.

Hal itu agar generasi sekarang bisa ikut merasakannya. Pesannya: jangan mau diajak kembali ke “kejayaan” masa lalu, itu cuma fatamorgana, nanti kita akan sengsara.

Kita semua pun melakukan itu dalam kadar masing-masing. Misal, bisa saja kita bilang: “Nak, kamu jangan bandel dan sering bolos, nanti kamu dikeluarkan dari sekolah, seperti paman kamu yang pengangguran itu” meski kita tahu, ada data pembanding lainnya tentang jumlah orang kaya yang dulunya suka bolos dan kini tajir melintir.

Ketakutan-ketakutan kecil sering kita taburkan. Mungkin karena itu efektif, yang pasti itu cara yang paling mudah, daripada musti diskusi panjang untuk menumbuhkan kesadaran.

Politik ketakutan juga tersebar di berbagai medium bisnis dan ekonomi. Periklanan misalnya, kalimat semacam Ayo beli! Tinggal 1 hari lagi! Jangan sampai ketinggalan! ada dimana-mana. Konsumen ditakut-takuti. Padahal, memang kenapa kalau ketinggalan?

Bukan cuma untuk membeli, politik ketakutan juga dilakukan untuk tidak membeli. Misal teks “rokok membunuhmu” yang ada di produk rokok. Meskipun kita tak bisa protes, kenapa sudah tahu “pasti membunuh” kok masih dijual ke masyarakat? Sebab, itu jelas-jelas melanggar konstitusi, dimana masyarakat berhak mendapatkan perlindungan dari negara.

Belum lagi di ranah hukum (nanti kamu dipenjara), agama (nanti masuk neraka), budaya, dll, kita tahu banyak sekali politik ketakutan yang dipaparkan setiap harinya.

Rasa takut itu insting mendasar, diperlukan setiap manusia untuk bertahan hidup (survival). Kita takut besok kelaparan, maka hari ini kita kerja cari duit. Kita takut besok ngantuk, maka malam ini kita tidur cukup. Kita takut dimarahin bos, maka kita bikin kopi agar bisa fokus menyelesaikan task hari ini. Dan seterusnya.

Lalu apa dong substansi dari “politik ketakutan” yang kini marak digaungkan? Atau jangan-jangan, isu-isu semua ini cuma hantu saja? Sama dengan isu hantu-hantu sebelumnya? Tapi tak apa, kita memang perlu hantu untuk bertahan hidup. Hantu mantan salah satunya, dimana “hai apa kabar kamu” is our greatest weakness.

Oposan

Pihak oposisi itu pasti mengeksploitasi kekurangan dari pihak penguasa. Sebaliknya, pihak penguasa pastilah mengeksploitasi data-data keberhasilannya. Apalagi di masa kampanye. Keadaan seperti itu wajar dan terjadi dimana-mana, di seluruh dunia.

Jadi, kalau ada yang berkomentar “oposisi ini lho, yang dilihat kok jeleknya pemerintah terus” atau sebaliknya “pemerintah ini lho, yang dipresentasikan kok bagus-bagusnya aja” — itu justru yang mestinya bikin saya bingung, karena memang seperti itu sudah sewajarnya.

Misalnya, untuk menjaga keseimbangan kekuasaan itu bahkan dibuat Pemilu sela pada sistem tata negara di Amerika. Dibuatlah pemilu di tengah jalan kekuasaan. Trennya, partai penguasa seringkali kehilangan kursi di pemilu sela. Seperti yang terjadi hari ini, DPR Amerika tak lagi dikuasai Partai Republik, sehingga kebijakan-kebijakan Presiden Trump gak bakal mulus, ia akan mendapat perlawanan, paling tidak di sisi anggaran.

Obama pun merasakan itu sebelumnya. Saat tengah berkuasa, partainya kalah di pemilu sela. Kebijakannya dihantam habis-habisan di DPR. Pemerintahan Obama akhirnya di shut-down DPR, uang anggaran tak dikeluarkan, pemerintahan Obama tak bisa bayar gaji pegawai-pegawainya selama beberapa bulan, sampai akhirnya ia melunak.

Jadi, santai saja lah.

Be Kind

Iya, kita tahu maksud dari kebenaran anda. Namun, tak perlu menasehati dengan merendah-rendahkan yang lain. Banyak orang tahu bahwa dia salah tapi nekat melakukan kejahatan, bukan untuk menjadi jahat tapi untuk membela harga dirinya, mempertahankan keyakinannya, yang belum pasti benar itu. Seringkali faktor emosional menutup pertimbangan intelektual. Itu yang banyak terjadi di kelompok-kelompok itu.

Atau anda berharap 200 juta lebih rakyat Indonesia itu sama persis kualitas pemikirannya dengan anda? Tentu tidak, kan.

Kedua, anda pintar dan mereka bodoh? Okay, anggap saja itu benar. Lantas, bagaimana mestinya? Orang pintar harus mengerti bahasa orang bodoh atau orang bodoh yang harus memahami orang pintar? Lalu buat apa kepintaran kalau anda tak bisa memahami orang yang masih bodoh?

So, be kind.

Warisan Ketakutan

Lho kok kalian ini masih pada takut sama HTI? Emang HTI itu masih ada? Bukannya sudah dibubarkan? Oh, jadi kalau sudah dibubarkan itu belum tentu tidak ada ya. Ya ya ya…

Kalau begitu, jangan-jangan PKI juga masih ada, meski sudah dibubarkan. Kan, organisasi yang sudah dibubarkan tidak serta merta menjadi tidak ada. Juga, jangan-jangan DI/TII juga masih ada.

Jadi gimana? Kalau sudah dibubarkan itu: masih ada atau sudah tidak ada?

Hal diatas logika sederhana, menunjukkan bahwa “ketakutan” itu ada pada kalian semua. Kita dicekokin ketakutan oleh generasi sebelum kita, lalu kita juga ikut mewariskan ketakutan sama ke anak-cucu kita. Mau sampe kapan?

Kampanye Medsos

Kegiatan kampanye itu bertujuan untuk mempromosikan Capres A atau Parpol A kepada masyarakat yang punya kecenderungan memilih Capres B atau Parpol B, tujuannya tentu untuk mempengaruhi pilihan politiknya. Jadi, tidak ada gunanya anda kampanye Capres A ke masyarakat yang memang sudah memastikan dirinya memilih Capres A. Itu seperti menggarami lautan, selain sia-sia, juga terlihat lucu. Kampanye politik kan hampir sama dengan brand marketing, mesti punya target market juga.

Persoalannya, karena saya belum pernah melakukan riset apa preferensi pilihan politik follower saya di media sosial, apakah mereka mayoritas pendukung Jokowi atau Prabowo, maka saya memutuskan untuk tidak melakukan kampanye politik pada mereka. Sebab, saya khawatir akan menjadi sia-sia.

Bro, beli obat ini deh. Manjur nih”, saya takut dijawab, “Udah bro, udah beli gua.” Nah.

Namun, saya sangat memahami jika ada sebagian teman-teman di media sosial yang setiap hari mempromosikan “Ayo Pilih Jokowi” misalnya. Besar kemungkinan mereka pasti sudah memetakan, bahwa mayoritas follower atau teman-temannya di media sosial adalah pendukung Prabowo. Atau ya sebaliknya.

Kasihan juga ya mereka, menjadi “minoritas” diantara pilihan politik teman-temannya.

Sabar ya, Kawan.