Mahasiswa Amnesia

Pada tahun 1998, para aktivis demokrasi, masyarakat, anak-anak muda dan para mahasiswa turun ke jalan, mereka menyebut IMF dengan istilah “rentenir global”, “neo kapitalis” dan sebagainya. Heroik.

 

Kini, 20 tahun kemudian, para aktivis dan mahasiswa itu duduk di kekuasaan, ada yang jadi petinggi pemerintahan dan petinggi Parpol. Mereka beramai-ramai menertawakan orang-orang yang menyebut IMF sebagai rentenir global. Menunjukkan data-data yang (terlihat) ilmiah, sembari mencibir (yang katanya) kebodohan.

Mereka tak sadar, mereka sedang menertawakan dirinya sendiri. Mereka lupa, amnesia, bahwa mereka juga lah yang meneriakkan isu itu, 20 tahun lalu pada sebuah gerakan (reformasi) yang karenanya derajat mereka terangkat di titik hari ini.

Ah tak usahlah kita berdebat panjang. Apalagi tentang isu rente global. Perdebatan kini justru makin remeh, tentang persoalan “peserta IMF itu makannya siapa yang bayarin”.

Saya juga bingung, dulu pun banyak spanduk “Bubarkan Golkar” dll yang diteriakkan para mahasiswa gerbong perubahan ini, toh ya nasibnya sama dengan si IMF ini. Bukan cuma dilupakan, tapi ditolak ke”ada”annya.

Atau mungkin… hanya aku saja yang berhalusinasi. Aku yang tak normal.

Hari ini, anak-anak muda takut menyebut “IMF rentenir global”, mereka takut kena pasal hoaks dan ujaran kebencian, mereka takut dipenjara. ”Mending kita main tik-tok atau nyari spot bagus buat posting di Instagram,” kata anak-anak muda itu.

Time Flies. Why?

Istri saya bercerita. Ketakutannya menjadi pengangguran yang gak ada kerjaan, saat ia memilih mengundurkan diri dari bekerja kantoran enam bulan lalu, tak terbukti. “Kok aku malah makin sibuk ya, Yah?” ujarnya suatu kali. Saya meringis mendengarnya, karena saya tahu itu semua bukan hal sentimentil.

Banyak penelitian, dari sisi neurosains hingga biokimia bisa menjelaskan itu. Secara ilmu psikologi pun juga bisa.

Dari sisi biokimia, ada hubungan kuat antara jumlah dopamine yang terlepas dari otak dengan melambannya waktu. Dopamine yang terlepas itu umumnya akan jauh menurun ketika seseorang menginjak umur 20-an. Lepas usia remaja, kita tak lagi ketemu hal baru, problema baru, tantangan-tantangan baru.

Apa itu dopamine dan apa yang menyebabkannya terlepas? Ini saya copas-kan saja dari Google:

It is released during pleasurable situations and stimulates one to seek out the pleasurable activity or occupation. This means food, sex, and several drugs of abuse are also stimulants of dopamine release in the brain, particularly in areas such as the nucleus accumbens and prefrontal cortex.

Nah, dengan makin jarangnya otak kita melepas dopamine, makin nganggur otak kita, makin cepatlah waktu berjalan. Sebenarnya gak cepat juga, cuma cepatnya waktu berjalan gak sebanding dengan hal-hal yang kita lakukan hari itu. Kita merasa sia-sia, seperti tak banyak memperoleh apa-apa. Logikanya sama: 24 jam. Namun setiap orang bisa melaluinya dengan experience yang berbeda-beda.

Rutinitas bekerja, bergaul, yang “begitu-begitu saja”, pastinya punya pengaruh besar. Gak ada hal baru dan melakukan hal yang itu-itu saja, di jam yang sama, pada ruangan yang sama, dengan bau atau aroma yang sama. Setiap hari.

Sebabnya, otak perlu bekerja dengan persoalan-persoalan baru. Tanpa itu, otak kita nganggur, dopamine pun tak terlepas. And time flies…

Berbeda dengan saat ia bekerja kantoran, kini istri saya menghadapi anak yang terus tumbuh, dan jenis pertumbuhannya selalu baru sehingga diperlukan metode dan cara-cara baru untuk memahaminya, setiap hari.

Siang hari Rian bermain balok, sore harinya permainan balok tak lagi menarik buatnya. Ia lalu membuka kantung baju kotor, lalu masuk kedalamnya. Keluar lalu masuk dan diam didalamnya beberapa lama. Entah apa yang diimajinasikannya. Istri saya bekerja keras memahami. Hal seperti itu terjadi setiap hari. Otaknya bekerja keras, ada persoalan baru.

Jadi, saya tidak menyarankan anda untuk resign dari pekerjaan. Tidak.

Don’t just float through life. Do different things as often as you can. Learn something new. Push yourself. Set a goal, even a silly goal, and work to achieve it. When it does, the passage of time will slow dramatically.

Anti Reklamasi

Banyak orang yang anti dan pro reklamasi, entah mana ujung dan mana pangkalnya.

Dari soal pulau-pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta yang katanya dikuasai konglomerasi Tiongkok, soal rusaknya ekosistem lingkungan hidup, soal hilangnya mata pencaharian nelayan-nelayan tradisional, sampe Soeharto yang katanya jadi biang pangkal keladi si reklamasi ini.

Isu reklamasi ini juga katanya tanda berdaulat tidaknya kita sebagai negara. Wah, makin gawat.

Dalam Merriam Webster, reklamasi atau reclamation berarti the act or process of recovering; the state of being recovered.

Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, reklamasi didefinisikan sebagai bantahan atau sanggahan (dengan nada keras); usaha memperluas tanah dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna; pengurukan (tanah).

Pada kedua definisi itu, tak ada satupun yang bermakna negatif. Artinya, reklamasi bukan hal yang buruk.

Seperti kalimat “usaha memperluas tanah dengan cara menguruk” kan hal seperti itu normal-normal saja. Kecuali yang anda uruk itu tanah milik orang lain, tapi itu juga yang salah anda, bukan menguruk-nya.

Jadi mestinya kita itu anti-reklamasi atau anti-komersialisasi atau anti-privatisasi? Tapi kembali lagi, komersialisasi dan privatisasi juga hal yang wajar-wajar saja di ranah ekonomi. Banyak perusahaan negara yang kemudian diprivatisasi menjadi perseroan juga. Banyak tanah yang dikomersialisasi. Banyak, dan biasa aja.

Kalau makna reklamasi hanya menguruk tanah, ya masa sih kita berjuang kok cuma “anti-reklamasi”? Kok ya nanggung banget…

Nah, agar perjuangan kita lebih substantif dan mengakar, saya usul “anti-reklamasi” diubah saja menjadi; “anti penguasaan sumber daya alam yang hanya untuk digunakan oleh kepentingan ekonomi kelompok tertentu tanpa mempertimbangkan hak dan hajat hidup rakyat”. Gimana?

Tapi…. sepertinya kalimatnya kurang pendek untuk dijadikan spanduk demontrasi. Juga kepanjangan untuk dijadikan status Twitter.

Sudah, kita kembali saja ke “anti-reklamasi”.

Belajar di Sekolah

Rian hari ini menjalani hari pertama sekolahnya.

Berangkat sekolah tampak terasa menyenangkan. Hal yang tak lazim. Entah sejak sekolah kelas berapa rasa menyenangkan itu lambat laun lalu hilang. Lalu menjadi keharusan, rutinitas, berganti dengan malas dan penuh tekanan.

Mulailah kita memisahkan antara dunia belajar dan dunia bermain. Padahal hakikatnya, setiap waktu adalah belajar, hingga akhir menutup mata.

Albert Einstein pernah menitipkan sebuah pesan pendek untuk anaknya yang berumur 11 tahun, Hans Albert. Selain sebuah pesan singkat tentang semangat belajar, pesan Einstein ini juga menunjukkan bahwa seorang jenius tidak bermain dengan retorika-retorika tapi dengan kalimat yang tajam dan jelas.

I am very pleased that you find joy with the piano. This and carpentry are in my opinion for your age the best pursuits, better even than school. Because those are things which fit a young person such as you very well. Mainly play the things on the piano which please you, even if the teacher does not assign those. That is the way to learn the most, that when you are doing something with such enjoyment that you don’t notice that the time passes. I am sometimes so wrapped up in my work that I forget about the noon meal…

Belajar terus sepanjang hidupmu, Nak. Bodoh adalah saat kamu berhenti belajar. 


Bukan Milik Saya

Seorang laki-laki datang membawa kardus di tangan dan tas di punggungnya, ia lalu duduk sebelah saya. Pada sebuah kursi panjang untuk empat orang, saya persilakan ia duduk dan saya pastikan tak ada barang yang menghalangi kursi bagiannya. Kami duduk berdua. Ia di ujung satu, saya di ujung lain.

Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta terlihat lengang, dalam ukuran arus balik lebaran, malam itu boleh dikata terlihat lengang. Saya menjemput anak, istri mertua dan adik ipar yang beberapa hari berlebaran di kampung halaman mereka, Pekanbaru. Tak lama, ia memberi kabar bahwa mereka telah mendarat. Tak sabar saya ingin lihat wajah Rian, anak saya.

Menunggu mereka keluar, saya luangkan waktu mengurut timeline Twitter. Saya me-retweet sebuah akun yang membahas Nabi tentang orang-orang yang masuk surga dengan hisab ringan. Berikut kata Nabi, “Beri orang yang merampas milikmu, maafkan yang menzalimimu, jaga hubungan dengan orang yang memutuskannya.” Lalu melanjutkan dengan membaca cuitan-cuitan Donald Trump yang “menghibur” itu. Saya asyik sendiri.

Tak lama, laki-laki itu menunjuk sepotong jaket merah ukuran kecil yang ada di bawah kursi kami, bertanya, “Jaket ini punya Mas?” Saya balas, “Oh bukan. Barang itu sudah ada sejak saya duduk.” Laki-laki itu diam, tak lama ia bersiap hendak pergi, dan kembali melihat saya dan bertanya, “Saya bawa ya, Mas? Bisa buat anak saya di rumah.”

Sambil terus memperhatikan cuitan Presiden Amerika yang berambut aneh itu, saya jawab, “Ya silakan, Mas.” Ia lantas menaruh jaket merah kecil itu di atas tumpukan kardusnya dan melangkah berjalan pergi menuju halte bus Damri.

Sepuluh menit kemudian, saya bersama Rian. Berlarian mengejarnya kesana-kemari. Dua tahun umurnya, laki-laki, dan begitu aktif mengejar semua hal yang tampak bergerak di depan matanya.

Tak lama, saya berpikir dan menyesali kalimat yang saya lontarkan ke laki-laki yang pergi membawa jaket merah itu. Jaket itu bukan miliknya, juga bukan milik saya. Hak apa yang membolehkan saya mengijinkannya membawa? Saya mulai menyesalinya. Kalau saja saya kembali ke sepuluh menit sebelumnya, mungkin ini yang akan saya katakan, “Maaf pak, jaket itu bukan milik saya, saya gak bisa mengijinkan atau tidak,” atau, “Maaf pak, tapi itu kan bukan milik bapak?

Ada banyak, puluhan simulasi kalimat di kepala saya, kenapa tak saya lontarkan saat itu? Saya coba tebus dengan menuliskannya disini.