Menjadi yang Dipimpin

Sejak kecil hingga sekolah dan kuliah, yang terus ditanamkan di kepala adalah “bagaimana menjadi pemimpin”. Kita didorong untuk menjadi pemimpin di segala bidang, bahwa orang yang sukses adalah saat dia menjadi yang terdepan, terhebat dan dicontoh banyak orang. Tidak. Hal itu tak selalu benar. Justru sebelum menjadi pemimpin, kita mestinya sudah lulus tentang bagaimana menjadi orang yang dipimpin. Satu hal inilah yang justru jarang ditanamkan.

Ada banyak cara meng-create seseorang untuk menjadi pemimpin, salah satunya adalah dengan tidak menjatuhkan wibawanya di depan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak sulit mencari pemimpin, yang lebih sulit adalah mencari orang-orang yang mau dipimpin. Ketika semua orang merasa dirinya mampu dan tak bisa menempatkan diri, disitulah biasanya banyak terjadi benturan. Saling serobot dan saling menonjolkan peran dan eksistensinya.

Saat anda memilih pemimpin, pastikan anda punya ketaatan. Taat bukan berarti takluk, tapi ketaatan itulah yang membuat pemimpin lebih mudah mengorganisir, mengaplikasikan strateginya untuk meraih tujuan-tujuan bersama.

Dan percayalah, seberapa hebat bakat anda, tanpa organisasi itu semua tak akan banyak berarti. Pahami, bahwa setiap kebaikan yang terorganisir akan membawa manfaat yang lebih besar.


 

Talent & Organization

Kata orang, bakat adalah sesuatu yang tumbuh alami. Kata saya: tidak selalu. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan untuk expertise pada hal-hal tertentu yang kemudian disebutnya itu sebagai bakat. Kecenderungan-kecenderungan itu akan tumbuh menjadi bakat ketika sedini mungkin tertemukan momennya, entah momen itu disengaja ataukah tidak. Seseorang yang berbakat memainkan piano, misal, tidak akan tumbuh atau bahkan mengerti bahwa dirinya berbakat, sebelum ia memainkan piano. Momen memainkan piano pertama kali itulah yang menentukan kapan bakat itu ditemukan. Bagaimana—misal: orang tua—menciptakan momen, itulah tantangannya. Namun, bagi saya, semua hal itu tetaplah hanya sebuah kecenderungan.

Continue reading “Talent & Organization”

Pemilihan Dirut NKRI

Sekilas saya menulis. Memperhatikan maraknya diskusi mengenai capres akhir-akhir ini, bolehlah dikatakan “diskusi” karena saya malas menggunakan kata “twittwar” atau “debat kusir” karena saya menghargai semua pendapat. Baik atau buruk, benar atau salah, musti dihargai sebagai bagian dari proses tumbuhnya kesadaran setiap individu.

Tulisan ini juga bukan untuk mendukung salah satu capres, sebab saya tak terlalu peduli dengan menu pencapresan di restoran demokrasi Indonesia. Peduli, tapi tak terlalu peduli. Masuk ke pikiran tapi cuma di teras-terasnya saja, gak sampai masuk ke kamar tidur, apalagi masuk ke hati saya. Dilarang.

Continue reading “Pemilihan Dirut NKRI”

Alami Ilmu

Kenapa kita jarang mendengar nasehat orang lain meski ia lebih berpengalaman? Karena memang lebih sulit belajar dari pengalaman orang lain. Orang secara alami musti mengalami pengalamannya sendiri untuk belajar.

Biarkan setiap orang tumbuh kesadaran dan spiritualnya dengan cara dan jalannya sendiri. Dengan kesabaran membiarkan orang lain memilih pengalamannya sendiri, itu juga bagian dari belajar.

Awal dari ilmu adalah mengenal atau mengalami. Tapi, nggak semua ilmu musti dikenal dengan mengalami. Buat tahu setrika itu panas, gak perlu lo pegang setrikanya… kalo itu namanya dungu.


 

Belum Ada Koruptor Ngaku

Dengan banyaknya kasus korupsi yang terungkap di media, paling tidak saya masih punya keyakinan bahwa tidak semua pelakunya punya niat sengaja untuk mencuri uang negara. Pastilah ada sebagian diantara mereka yang khilaf, lalai atau bahkan lupa bahwa perilakunya termasuk tindakan korupsi yang dimasukkan dalam pasal pelanggaran hukum pidana.

Namun, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan para pelaku korupsi acapkali membuat persepsi awal tadi jadi tak sepenuhnya benar. Sejak mereka tertangkap, hingga jatuhnya putusan final, mereka tetap menolak untuk menyatakan bahwa dirinya salah.

Continue reading “Belum Ada Koruptor Ngaku”