Anti Reklamasi

Banyak orang yang anti dan pro reklamasi, entah mana ujung dan mana pangkalnya.

Dari soal pulau-pulau hasil reklamasi di Teluk Jakarta yang katanya dikuasai konglomerasi Tiongkok, soal rusaknya ekosistem lingkungan hidup, soal hilangnya mata pencaharian nelayan-nelayan tradisional, sampe Soeharto yang katanya jadi biang pangkal keladi si reklamasi ini.

Isu reklamasi ini juga katanya tanda berdaulat tidaknya kita sebagai negara. Wah, makin gawat.

Dalam Merriam Webster, reklamasi atau reclamation berarti the act or process of recovering; the state of being recovered.

Sedang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, reklamasi didefinisikan sebagai bantahan atau sanggahan (dengan nada keras); usaha memperluas tanah dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna; pengurukan (tanah).

Pada kedua definisi itu, tak ada satupun yang bermakna negatif. Artinya, reklamasi bukan hal yang buruk.

Seperti kalimat “usaha memperluas tanah dengan cara menguruk” kan hal seperti itu normal-normal saja. Kecuali yang anda uruk itu tanah milik orang lain, tapi itu juga yang salah anda, bukan menguruk-nya.

Jadi mestinya kita itu anti-reklamasi atau anti-komersialisasi atau anti-privatisasi? Tapi kembali lagi, komersialisasi dan privatisasi juga hal yang wajar-wajar saja di ranah ekonomi. Banyak perusahaan negara yang kemudian diprivatisasi menjadi perseroan juga. Banyak tanah yang dikomersialisasi. Banyak, dan biasa aja.

Kalau makna reklamasi hanya menguruk tanah, ya masa sih kita berjuang kok cuma “anti-reklamasi”? Kok ya nanggung banget…

Nah, agar perjuangan kita lebih substantif dan mengakar, saya usul “anti-reklamasi” diubah saja menjadi; “anti penguasaan sumber daya alam yang hanya untuk digunakan oleh kepentingan ekonomi kelompok tertentu tanpa mempertimbangkan hak dan hajat hidup rakyat”. Gimana?

Tapi…. sepertinya kalimatnya kurang pendek untuk dijadikan spanduk demontrasi. Juga kepanjangan untuk dijadikan status Twitter.

Sudah, kita kembali saja ke “anti-reklamasi”.

64 Tahun Cak Nun

Puluhan nama disematkan ke dirinya: Cak Nun, Emha, si Emha, Pak Emha, Mbah Nun, Ainun, Sahan, Yang Mulia Cak Nun, Maulana, dll; nama-nama itu seperti menerangkan begitu multidimensi-nya beliau.

Ada orang-orang yang memahami sisi intelektualnya, meski ia bukan akademisi, tapi Cak Nun selalu mengajarkan cara berpikir yang akademis, logis, rasional, tertata, padat dan komprehensif. Diskusi, seminar, panel di kampus, pemerintahan dan ruang-ruang intelektual ia hadiri hampir setiap hari, hingga kini. Orang-orang ini biasa memanggilnya: Emha, atau Pak Emha.

Namun, banyak juga yang mengenal dan mengakrabi beliau dari sisi budayanya, tak heran ia juga disebut “budayawan”. Tentang karir dan karya seni dan kebudayaan ini, saya berani mengatakan belum ada yang menandinginya. Entah sudah berapa ratus buku, berapa ribu essay, berapa ratus naskah teater, lagu dan puisi teater yang sudah ia hasilkan. Golongan seniman-seniman tua yang mengenalnya, biasa memanggilnya “Ainun” atau hanya “Nun”.

“Sahan” adalah panggilan dalam lingkup keluarga. Keluarga dalam konteks ini bukan hanya sedarah, kalau anda berkeliaran di kediaman beliau di Kadipiro, anda akan tahu hal ini. — Beberapa tahun lalu, saya yang bukan siapa-siapa suatu kali datang ke Kadipiro, duduk di kursi panjang balainya. Tak sengaja, saya melihat bayangan Cak Nun di jendela atas, tak jauh dari saya duduk. Tanpa perhitungan adab (saya merasanya seperti itu ketika itu) saya SMS beliau dan memberitahukan bahwa saya sedang duduk di bawah, dan dibalasnya “diluk Ron” yang artinya “sebentar”. Dan tak lama ia terlihat turun tangga, duduk depan saya dan memintakan kopi untuk saya. Hal-hal seperti ini tidak berlaku buat saya, memang seperti itulah adanya Cak Nun. Dia bisa menjadi teman keseharian kita, menjadi keluarga untuk siapa saja yang tulus mendekat.

Golongan lain memanggilnya “Maulana” dan “Yang Mulia”, ini sedikit orang yang mengetahui, biasanya ada dalam ruang-ruang obrolan bernuansa spiritual, yang sulit saya jelaskan. Tapi saya tahu dengan mata dan telinga saya sendiri, banyak orang menyebut beliau itu.

Saya sendiri, menyapa beliau dengan “Cak”.


 

Antek-antek

Sulit memang kalau berpikirnya sudah “saya benar, yang lain salah”, apa saja yg dilakukan kelompok (politik, ormas) lain pastilah tercela, kelompoknya lah yang benar. Padahal gak sulit juga kalau mau sedikit lurus menganalisa.

Dengan sedikit akal sehat, kalau saya, kok kayanya sulit percaya siapapun dari ketiga calon gubernur (Agus, Ahok, Anies) punya niat sengaja merusak Jakarta, punya niat korupsi atau berniat “lihat nanti kalo gue jadi Gubernur, gw bakal rampok semua” … kayanya gak lah. Mereka bertiga pasti ingin Jakarta lebih baik, mereka bertiga pasti mau dikenang sebagai pahlawan.

Atau, berpikir kalau salah satu Cagub adalah rasis. Agus rasis? Mmm gak mungkin deh. Doktrin tentara gak akan menghasilkan kualitas serendah itu. Anies rasis? Mmm… dia dekan paramadina lho dulu. Intelektual setingkat dia masa rasis? Tidak mudah mempercayainya. – Yang paling mungkin, tim suksesnya menggunakan cara-cara tidak baik, dan mereka melakukan pembiaran. Tapi mereka rasis secara individu? Sulit dipercaya.

Gimana dengan tuduhan: “Ahok antek pengembang”? Mmm…. hari ini sudah 2017, bung. Gak mungkin sesederhana itu kalaupun ada konspirasi untuk menguasai politik ekonomi Jakarta. Bayangkan skenario ini: “Ada sekelompok China mau mengusai Jakarta, lalu mereka membayar Ahok (yang juga beretnis sama) untuk jadi gubernur jakarta agar bisa disetir sesuai kemauannya?” Sesimpel itu? I don’t think so. Penulis sinetron saja bisa lebih baik bikin skenarionya. Mungkin anda saja yang malas menganalisis.

Nah, itu baru tiga isu, dikupas sedikit saja. Berpikir sederhana dan positif kaya gini kan mestinya gak sulit. Semua orang ingin keadaan menjadi lebih baik, dengan cara yang mereka ketahui dengan batasan-batasan tingkat pemahaman masing-masing, termasuk ketiga Cagub kita ini.

Trus kenapa di media sosial orang saling tuduh-menuduh “Rasis!”, “Anak Koruptor!”, “Antek Cina!” dll? Mikir dong…


 

Puasa Memperbaharui Akhlak

Satu alasan mengapa puasa musti terus dilakukan setiap tahun, mungkin salah satunya adalah sebuah pelajaran agar akhlak kita terus menerus terbaharui. Sebab hal sederhana dalam berpuasa adalah justru bagaimana kita disuruh meninggalkan perbuatan yang halal, bukan yang haram.

Puasa bukan mengajari kita untuk tidak mencuri, tidak menyakiti atau menipu orang lain, bahkan puasa tidak mengajari kita untuk tidak korupsi (eh maaf, korupsi termasuk mencuri, sudah disebut sebelumnya), lebih sederhana dari itu semua; puasa mengajari kita untuk tidak minum teh manis, tidak makan bakwan atau ngemil bakso di siang hari. Sesederhana itu.

Artinya, Tuhan menyuruh kita puasa (dalam hal ini puasa Ramadan) agar kita punya kemampuan untuk menghindari hal-hal remeh, hal-hal yang (justru) halal.

Kalau perilaku tidak korupsi, tidak mencuri, tidak mengintimidasi orang dengan kekerasan, dll itu memang tidak boleh kita lakukan meski diluar Ramadan. Jadi, anda berpuasa atau tidak berpuasa, mencuri itu tetap haram. Bukan itu pelajarannya. Maka lucu kalau ada kalimat: “Maaf, saya tidak mencuri, saya sedang berpuasa,” atau “Maaf, saya tidak bisa berbohong, karena saya sedang berpuasa.”

Logikanya, jika dari hal atau perbuatan yang halal saja kita bisa menahan diri apalagi menahan diri dari perbuatan yang haram dan tercela. Kalau tempe goreng yang jelas halalnya saja kita bisa menolak untuk memakannya, apalagi makan dari uang curian.

Anda boleh saja memperdalam makna puasa, mengelaborasi lebih mendetail lagi substansi dan hikmah puasa, namun bagi saya itulah hikmah puasa yang paling ada di permukaan. Sesederhana itu.

Puasa hakikatnya adalah menahan diri dari yang halal. Lalu, setelah Ramadan berlalu, pertanyaan selanjutnya adalah: hal halal apa yang bisa kita tolak atau kita hindari? Silakan menjawabnya. Karena disitulah letaknya akhlak.

Lho, lucu. Hal halal kok dihindari? Maksudnya gimana? Nah kan.


Menjadi yang Dipimpin

Sejak kecil hingga sekolah dan kuliah, yang terus ditanamkan di kepala adalah “bagaimana menjadi pemimpin”. Kita didorong untuk menjadi pemimpin di segala bidang, bahwa orang yang sukses adalah saat dia menjadi yang terdepan, terhebat dan dicontoh banyak orang. Tidak. Hal itu tak selalu benar. Justru sebelum menjadi pemimpin, kita mestinya sudah lulus tentang bagaimana menjadi orang yang dipimpin. Satu hal inilah yang justru jarang ditanamkan.

Ada banyak cara meng-create seseorang untuk menjadi pemimpin, salah satunya adalah dengan tidak menjatuhkan wibawanya di depan orang-orang yang dipimpinnya. Tidak sulit mencari pemimpin, yang lebih sulit adalah mencari orang-orang yang mau dipimpin. Ketika semua orang merasa dirinya mampu dan tak bisa menempatkan diri, disitulah biasanya banyak terjadi benturan. Saling serobot dan saling menonjolkan peran dan eksistensinya.

Saat anda memilih pemimpin, pastikan anda punya ketaatan. Taat bukan berarti takluk, tapi ketaatan itulah yang membuat pemimpin lebih mudah mengorganisir, mengaplikasikan strateginya untuk meraih tujuan-tujuan bersama.

Dan percayalah, seberapa hebat bakat anda, tanpa organisasi itu semua tak akan banyak berarti. Pahami, bahwa setiap kebaikan yang terorganisir akan membawa manfaat yang lebih besar.