Tak Harus Taat

‪Pegawai negara/pemerintah tidak harus taat pada atasannya. Yang benar adalah: semua pegawai pemerintah/negara (atasan maupun bawahan) harus taat pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Jika ada atasan yang kebijakannya melanggar aturan, bertentangan dengan perundang-undangan, apalagi melanggar nilai-nilai yang tertuang pada Pancasila dan UUD 1945 (sebagai dasar negara), bawahan justru wajib tidak menaati. ‬

Sebab, yang membayar gaji dan fasilitas para pegawai pemerintah/negara itu bukan atasannya, tapi rakyat lah yang menggaji. Rakyat menggaji para pegawai ASN itu melalui uang-uang pajak yang dititipkan melalui APBN.

Tapi, apa iya kalian seberani itu?

Kalian Itu Bagaimana

Kalian itu bagaimana? Kalau memang salah satu Capres itu dibilang melanggar HAM, korup, otoriter, intoleran dsb, ya jangan dong disodorkan ke rakyat. Kalau ada warga negara melanggar hukum ya diadili lalu dihukum. Jangan rakyat dikasi dua pilihan lalu di saat sama bilang ke rakyat “jangan pilih dia, dia penjahat HAM, dll”. Kananying.

Pilihkan kami (rakyat) calon-calon presiden yang sudah bersih, mumpuni dan segala lain-lain sebagai syarat menjadi pemimpin. Udah beres… sodorkan ke rakyat, baru rakyat akan memilih dari keduanya.

Kalian itu bagaimana? Sudah kita bayar mahal-mahal, disuruh mencari 2 manusia dari 200 juta manusia sebagai calon presiden pengelola pemerintahan saja masih juga gak becus.

Freeport Nanti

Kita ucapkan selamat kepada pemerintah yang telah membeli/mengambil-alih/mengakuisi atau apapun namanya, 51% saham Freeport. Ayo lanjutkan kehebatannya.

Buat masyarakat, jangan berhenti pada glorifikasi kehebatan-kehebatan. Tak lagi seperti dulu, per sekarang, jika masyarakat Papua masih tidak bisa disejahterakan, jika daerah Mimika masih ada yang miskin, jika masih ada pencemaran lingkungan, jika masih tidak ada perlindungan tenaga kerja di Freeport, ingat: kita tak boleh lagi menyalahkan asing. Kini kita mulai bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia, pemilik mayoritas saham Freeport, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Atau yang paling riil aja, yaitu pendapatan negara atau uang. Kita tunggu, setahun lagi, berapa triliun rupiah yang akan didapat pemerintah dari Freeport. Harusnya bisa puluhan trilyun, atau mestinya bisa ratusan trilyun.

Jangan lagi pendapatan negara dari gunung emas (menurut Kemenperin, sejak 1995-2014 pendapatan negara dari Freeport rata-rata 8 trilyun per tahun) masih kalah sama pendapatan negara dari cukai tembakau yang pertahunnya bisa 100-139 trilyun pertahunnya. Padahal bisnis tembakau udah dihajar sana-sini.

Masa punya gunung emas tapi masih kalah sama tembakau? Malu dong ama mbah-mbah petani tembakau di Temanggung. Apalagi sekarang sudah pemilik saham mayoritas.

Politik Genderuwo

Sebenarnya, politik genderuwo atau politik yang menakut-nakuti juga diperlukan dalam kadar tertentu. Seperti baru-baru ini, kita tak ingin kembali ke masa orde baru, maka perlu dibangkitkan lagi rasa-rasa, data-data, cerita-cerita di masa lalu yang menimbulkan ketakutan-ketakutan.

Hal itu agar generasi sekarang bisa ikut merasakannya. Pesannya: jangan mau diajak kembali ke “kejayaan” masa lalu, itu cuma fatamorgana, nanti kita akan sengsara.

Kita semua pun melakukan itu dalam kadar masing-masing. Misal, bisa saja kita bilang: “Nak, kamu jangan bandel dan sering bolos, nanti kamu dikeluarkan dari sekolah, seperti paman kamu yang pengangguran itu” meski kita tahu, ada data pembanding lainnya tentang jumlah orang kaya yang dulunya suka bolos dan kini tajir melintir.

Ketakutan-ketakutan kecil sering kita taburkan. Mungkin karena itu efektif, yang pasti itu cara yang paling mudah, daripada musti diskusi panjang untuk menumbuhkan kesadaran.

Politik ketakutan juga tersebar di berbagai medium bisnis dan ekonomi. Periklanan misalnya, kalimat semacam Ayo beli! Tinggal 1 hari lagi! Jangan sampai ketinggalan! ada dimana-mana. Konsumen ditakut-takuti. Padahal, memang kenapa kalau ketinggalan?

Bukan cuma untuk membeli, politik ketakutan juga dilakukan untuk tidak membeli. Misal teks “rokok membunuhmu” yang ada di produk rokok. Meskipun kita tak bisa protes, kenapa sudah tahu “pasti membunuh” kok masih dijual ke masyarakat? Sebab, itu jelas-jelas melanggar konstitusi, dimana masyarakat berhak mendapatkan perlindungan dari negara.

Belum lagi di ranah hukum (nanti kamu dipenjara), agama (nanti masuk neraka), budaya, dll, kita tahu banyak sekali politik ketakutan yang dipaparkan setiap harinya.

Rasa takut itu insting mendasar, diperlukan setiap manusia untuk bertahan hidup (survival). Kita takut besok kelaparan, maka hari ini kita kerja cari duit. Kita takut besok ngantuk, maka malam ini kita tidur cukup. Kita takut dimarahin bos, maka kita bikin kopi agar bisa fokus menyelesaikan task hari ini. Dan seterusnya.

Lalu apa dong substansi dari “politik ketakutan” yang kini marak digaungkan? Atau jangan-jangan, isu-isu semua ini cuma hantu saja? Sama dengan isu hantu-hantu sebelumnya? Tapi tak apa, kita memang perlu hantu untuk bertahan hidup. Hantu mantan salah satunya, dimana “hai apa kabar kamu” is our greatest weakness.

Time Flies. Why?

Istri saya bercerita. Ketakutannya menjadi pengangguran yang gak ada kerjaan, saat ia memilih mengundurkan diri dari bekerja kantoran enam bulan lalu, tak terbukti. “Kok aku malah makin sibuk ya, Yah?” ujarnya suatu kali. Saya meringis mendengarnya, karena saya tahu itu semua bukan hal sentimentil.

Banyak penelitian, dari sisi neurosains hingga biokimia bisa menjelaskan itu. Secara ilmu psikologi pun juga bisa.

Dari sisi biokimia, ada hubungan kuat antara jumlah dopamine yang terlepas dari otak dengan melambannya waktu. Dopamine yang terlepas itu umumnya akan jauh menurun ketika seseorang menginjak umur 20-an. Lepas usia remaja, kita tak lagi ketemu hal baru, problema baru, tantangan-tantangan baru.

Apa itu dopamine dan apa yang menyebabkannya terlepas? Ini saya copas-kan saja dari Google:

It is released during pleasurable situations and stimulates one to seek out the pleasurable activity or occupation. This means food, sex, and several drugs of abuse are also stimulants of dopamine release in the brain, particularly in areas such as the nucleus accumbens and prefrontal cortex.

Nah, dengan makin jarangnya otak kita melepas dopamine, makin nganggur otak kita, makin cepatlah waktu berjalan. Sebenarnya gak cepat juga, cuma cepatnya waktu berjalan gak sebanding dengan hal-hal yang kita lakukan hari itu. Kita merasa sia-sia, seperti tak banyak memperoleh apa-apa. Logikanya sama: 24 jam. Namun setiap orang bisa melaluinya dengan experience yang berbeda-beda.

Rutinitas bekerja, bergaul, yang “begitu-begitu saja”, pastinya punya pengaruh besar. Gak ada hal baru dan melakukan hal yang itu-itu saja, di jam yang sama, pada ruangan yang sama, dengan bau atau aroma yang sama. Setiap hari.

Sebabnya, otak perlu bekerja dengan persoalan-persoalan baru. Tanpa itu, otak kita nganggur, dopamine pun tak terlepas. And time flies…

Berbeda dengan saat ia bekerja kantoran, kini istri saya menghadapi anak yang terus tumbuh, dan jenis pertumbuhannya selalu baru sehingga diperlukan metode dan cara-cara baru untuk memahaminya, setiap hari.

Siang hari Rian bermain balok, sore harinya permainan balok tak lagi menarik buatnya. Ia lalu membuka kantung baju kotor, lalu masuk kedalamnya. Keluar lalu masuk dan diam didalamnya beberapa lama. Entah apa yang diimajinasikannya. Istri saya bekerja keras memahami. Hal seperti itu terjadi setiap hari. Otaknya bekerja keras, ada persoalan baru.

Jadi, saya tidak menyarankan anda untuk resign dari pekerjaan. Tidak.

Don’t just float through life. Do different things as often as you can. Learn something new. Push yourself. Set a goal, even a silly goal, and work to achieve it. When it does, the passage of time will slow dramatically.