64 Tahun Cak Nun

Puluhan nama disematkan ke dirinya: Cak Nun, Emha, si Emha, Pak Emha, Mbah Nun, Ainun, Sahan, Yang Mulia Cak Nun, Maulana, dll; nama-nama itu seperti menerangkan begitu multidimensi-nya beliau.

Ada orang-orang yang memahami sisi intelektualnya, meski ia bukan akademisi, tapi Cak Nun selalu mengajarkan cara berpikir yang akademis, logis, rasional, tertata, padat dan komprehensif. Diskusi, seminar, panel di kampus, pemerintahan dan ruang-ruang intelektual ia hadiri hampir setiap hari, hingga kini. Orang-orang ini biasa memanggilnya: Emha, atau Pak Emha. Continue reading “64 Tahun Cak Nun”

Antek-antek

Sulit memang kalau berpikirnya sudah “saya benar, yang lain salah”, apa saja yg dilakukan kelompok (politik, ormas) lain pastilah tercela, kelompoknya lah yang benar. Padahal gak sulit juga kalau mau sedikit lurus menganalisa.

Dengan sedikit akal sehat, kalau saya, kok kayanya sulit percaya siapapun dari ketiga calon gubernur (Agus, Ahok, Anies) punya niat sengaja merusak Jakarta, punya niat korupsi atau berniat “lihat nanti kalo gue jadi Gubernur, gw bakal rampok semua” … kayanya gak lah. Mereka bertiga pasti ingin Jakarta lebih baik, mereka bertiga pasti mau dikenang sebagai pahlawan. Continue reading “Antek-antek”

Puasa Memperbaharui Akhlak

Satu alasan mengapa puasa musti terus dilakukan setiap tahun, mungkin salah satunya adalah sebuah pelajaran agar akhlak kita terus menerus terbaharui. Sebab hal sederhana dalam berpuasa adalah justru bagaimana kita disuruh meninggalkan perbuatan yang halal, bukan yang haram.

Puasa bukan mengajari kita untuk tidak mencuri, tidak menyakiti atau menipu orang lain, bahkan puasa tidak mengajari kita untuk tidak korupsi (eh maaf, korupsi termasuk mencuri, sudah disebut sebelumnya), lebih sederhana dari itu semua; puasa mengajari kita untuk tidak minum teh manis, tidak makan bakwan atau ngemil bakso di siang hari. Sesederhana itu. Continue reading “Puasa Memperbaharui Akhlak”

Menjadi yang Dipimpin

Sejak kecil hingga sekolah dan kuliah, yang terus ditanamkan di kepala adalah “bagaimana menjadi pemimpin”. Kita didorong untuk menjadi pemimpin di segala bidang, bahwa orang yang sukses adalah saat dia menjadi yang terdepan, terhebat dan dicontoh banyak orang. Tidak. Hal itu tak selalu benar. Justru sebelum menjadi pemimpin, kita mestinya sudah lulus tentang bagaimana menjadi orang yang dipimpin. Satu hal inilah yang justru jarang ditanamkan. Continue reading “Menjadi yang Dipimpin”

Talent & Organization

Kata orang, bakat adalah sesuatu yang tumbuh alami. Kata saya: tidak selalu. Pada dasarnya setiap manusia memiliki kecenderungan untuk expertise pada hal-hal tertentu yang kemudian disebutnya itu sebagai bakat. Kecenderungan-kecenderungan itu akan tumbuh menjadi bakat ketika sedini mungkin tertemukan momennya, entah momen itu disengaja ataukah tidak. Seseorang yang berbakat memainkan piano, misal, tidak akan tumbuh atau bahkan mengerti bahwa dirinya berbakat, sebelum ia memainkan piano. Momen memainkan piano pertama kali itulah yang menentukan kapan bakat itu ditemukan. Bagaimana—misal: orang tua—menciptakan momen, itulah tantangannya. Namun, bagi saya, semua hal itu tetaplah hanya sebuah kecenderungan.

Continue reading “Talent & Organization”