Tentang Keamanan

Kata Simbah, muslim adalah seseorang yang sanggup memberikan rasa aman pada lingkungan yang pastinya termasuk manusia di sekitarnya. Terutama pada tiga hal: nyawanya, hartanya dan martabatnya.

Mengamankan nyawa artinya tidak membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain. Mengamankan harta berarti tidak mencuri atau mengambil hak orang lain. Mengamankan martabat yaitu dengan tidak merendahkan, merusak atau menghina eksistensi manusia lain.

Namun, seperti sikap mulia lainnya, it’s easier said than done, mengucapkannya lebih mudah dari melaksanakannya.

Bisakah anda mengambil harta atau hak orang lain tanpa merusak martabatnya? Mampukah anda menghina manusia, merendah-rendahkannya tanpa membunuhnya? Seringkali ketiganya berinterseksi sangat dekat.

Memang tak mudah.

Atau mungkin kita bisa sampai pada tahapan yang lebih mulia, seperti: membiarkan mereka mengambil hak-hak atau harta kita, agar martabat mereka tetap terjaga. Kalau perlu jangan sampai mereka tahu kalau kita tahu.

Ambil lah semua dan jadilah pahlawan. Tak perlu ada rasa khawatir, martabatmu akan selalu kujaga. Kan kusimpan semua dalam dada.

Tak Harus Taat

‪Pegawai negara/pemerintah tidak harus taat pada atasannya. Yang benar adalah: semua pegawai pemerintah/negara (atasan maupun bawahan) harus taat pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan. Jika ada atasan yang kebijakannya melanggar aturan, bertentangan dengan perundang-undangan, apalagi melanggar nilai-nilai yang tertuang pada Pancasila dan UUD 1945 (sebagai dasar negara), bawahan justru wajib tidak menaati. ‬

Sebab, yang membayar gaji dan fasilitas para pegawai pemerintah/negara itu bukan atasannya, tapi rakyat lah yang menggaji. Rakyat menggaji para pegawai ASN itu melalui uang-uang pajak yang dititipkan melalui APBN.

Tapi, apa iya kalian seberani itu?

Kalian Itu Bagaimana

Kalian itu bagaimana? Kalau memang salah satu Capres itu dibilang melanggar HAM, korup, otoriter, intoleran dsb, ya jangan dong disodorkan ke rakyat. Kalau ada warga negara melanggar hukum ya diadili lalu dihukum. Jangan rakyat dikasi dua pilihan lalu di saat sama bilang ke rakyat “jangan pilih dia, dia penjahat HAM, dll”. Kananying.

Pilihkan kami (rakyat) calon-calon presiden yang sudah bersih, mumpuni dan segala lain-lain sebagai syarat menjadi pemimpin. Udah beres… sodorkan ke rakyat, baru rakyat akan memilih dari keduanya.

Kalian itu bagaimana? Sudah kita bayar mahal-mahal, disuruh mencari 2 manusia dari 200 juta manusia sebagai calon presiden pengelola pemerintahan saja masih juga gak becus.

Freeport Nanti

Kita ucapkan selamat kepada pemerintah yang telah membeli/mengambil-alih/mengakuisi atau apapun namanya, 51% saham Freeport. Ayo lanjutkan kehebatannya.

Buat masyarakat, jangan berhenti pada glorifikasi kehebatan-kehebatan. Tak lagi seperti dulu, per sekarang, jika masyarakat Papua masih tidak bisa disejahterakan, jika daerah Mimika masih ada yang miskin, jika masih ada pencemaran lingkungan, jika masih tidak ada perlindungan tenaga kerja di Freeport, ingat: kita tak boleh lagi menyalahkan asing. Kini kita mulai bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia, pemilik mayoritas saham Freeport, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Atau yang paling riil aja, yaitu pendapatan negara atau uang. Kita tunggu, setahun lagi, berapa triliun rupiah yang akan didapat pemerintah dari Freeport. Harusnya bisa puluhan trilyun, atau mestinya bisa ratusan trilyun.

Jangan lagi pendapatan negara dari gunung emas (menurut Kemenperin, sejak 1995-2014 pendapatan negara dari Freeport rata-rata 8 trilyun per tahun) masih kalah sama pendapatan negara dari cukai tembakau yang pertahunnya bisa 100-139 trilyun pertahunnya. Padahal bisnis tembakau udah dihajar sana-sini.

Masa punya gunung emas tapi masih kalah sama tembakau? Malu dong ama mbah-mbah petani tembakau di Temanggung. Apalagi sekarang sudah pemilik saham mayoritas.

Politik Genderuwo

Sebenarnya, politik genderuwo atau politik yang menakut-nakuti juga diperlukan dalam kadar tertentu. Seperti baru-baru ini, kita tak ingin kembali ke masa orde baru, maka perlu dibangkitkan lagi rasa-rasa, data-data, cerita-cerita di masa lalu yang menimbulkan ketakutan-ketakutan.

Hal itu agar generasi sekarang bisa ikut merasakannya. Pesannya: jangan mau diajak kembali ke “kejayaan” masa lalu, itu cuma fatamorgana, nanti kita akan sengsara.

Kita semua pun melakukan itu dalam kadar masing-masing. Misal, bisa saja kita bilang: “Nak, kamu jangan bandel dan sering bolos, nanti kamu dikeluarkan dari sekolah, seperti paman kamu yang pengangguran itu” meski kita tahu, ada data pembanding lainnya tentang jumlah orang kaya yang dulunya suka bolos dan kini tajir melintir.

Ketakutan-ketakutan kecil sering kita taburkan. Mungkin karena itu efektif, yang pasti itu cara yang paling mudah, daripada musti diskusi panjang untuk menumbuhkan kesadaran.

Politik ketakutan juga tersebar di berbagai medium bisnis dan ekonomi. Periklanan misalnya, kalimat semacam Ayo beli! Tinggal 1 hari lagi! Jangan sampai ketinggalan! ada dimana-mana. Konsumen ditakut-takuti. Padahal, memang kenapa kalau ketinggalan?

Bukan cuma untuk membeli, politik ketakutan juga dilakukan untuk tidak membeli. Misal teks “rokok membunuhmu” yang ada di produk rokok. Meskipun kita tak bisa protes, kenapa sudah tahu “pasti membunuh” kok masih dijual ke masyarakat? Sebab, itu jelas-jelas melanggar konstitusi, dimana masyarakat berhak mendapatkan perlindungan dari negara.

Belum lagi di ranah hukum (nanti kamu dipenjara), agama (nanti masuk neraka), budaya, dll, kita tahu banyak sekali politik ketakutan yang dipaparkan setiap harinya.

Rasa takut itu insting mendasar, diperlukan setiap manusia untuk bertahan hidup (survival). Kita takut besok kelaparan, maka hari ini kita kerja cari duit. Kita takut besok ngantuk, maka malam ini kita tidur cukup. Kita takut dimarahin bos, maka kita bikin kopi agar bisa fokus menyelesaikan task hari ini. Dan seterusnya.

Lalu apa dong substansi dari “politik ketakutan” yang kini marak digaungkan? Atau jangan-jangan, isu-isu semua ini cuma hantu saja? Sama dengan isu hantu-hantu sebelumnya? Tapi tak apa, kita memang perlu hantu untuk bertahan hidup. Hantu mantan salah satunya, dimana “hai apa kabar kamu” is our greatest weakness.