Tentang Relasi Profesionalitas

Di tempat-tempat kerja, dengan lantang mereka katakan, “Disini bukan Islam lho, disini PROFESIONAL.”

Apa Islam tidak profesional? Apa profesional bukan Islam? Bukannya Islam mengajarkan akuntabilitas (accountibility), ketepatan (punctuality), bahkan sampai kredibilitas (credibility), dan sebagainya?

Sepanjang saya tahu, kita tak mungkin menjadi muslim jika tak bisa berlaku jujur, bertanggung jawab, akuntabel dan melakukan semua hal-hal yang profesional itu.

Lucu, agama hanya ada di tempat-tempat pengajian dan majelis-majelis.

Pantas saja, korupsi, penipuan, penyelewengan dan perilaku buruk terjadi dimana-mana, kecuali di tempat-tempat yang mereka anggap suci.

Padahal, emang ada tempat yang tidak suci?

Tentang Keamanan

Kata Simbah, muslim adalah seseorang yang sanggup memberikan rasa aman pada lingkungan yang pastinya termasuk manusia di sekitarnya. Terutama pada tiga hal: nyawanya, hartanya dan martabatnya.

Mengamankan nyawa artinya tidak membunuh atau menghilangkan nyawa orang lain. Mengamankan harta berarti tidak mencuri atau mengambil hak orang lain. Mengamankan martabat yaitu dengan tidak merendahkan, merusak atau menghina eksistensi manusia lain.

Namun, seperti sikap mulia lainnya, it’s easier said than done, mengucapkannya lebih mudah dari melaksanakannya.

Bisakah anda mengambil harta atau hak orang lain tanpa merusak martabatnya? Mampukah anda menghina manusia, merendah-rendahkannya tanpa membunuhnya? Seringkali ketiganya berinterseksi sangat dekat.

Memang tak mudah.

Atau mungkin kita bisa sampai pada tahapan yang lebih mulia, seperti: membiarkan mereka mengambil hak-hak atau harta kita, agar martabat mereka tetap terjaga. Kalau perlu jangan sampai mereka tahu kalau kita tahu.

Ambil lah semua dan jadilah pahlawan. Tak perlu ada rasa khawatir, martabatmu akan selalu kujaga. Kan kusimpan semua dalam dada.

Tentang Kepantasan

Mereka ini paham dengan yang namanya “conflict of interest”, karena jika dihadapkan pada hal sama dengan titik posisi yang berbeda, mereka pun akan memprotesnya, sama layaknya kita-kita sekarang.

Persoalan bangsa ini dari dulu bukan persoalan “boleh atau tidak boleh” tapi persoalan “pantas atau tidak pantas”. Kisah-kisah menggugah dari kisah naik angkotnya Baharudin Lopa atau cerita sepatu bututnya Bung Hatta, bukan karena mereka miskin tak mampu beli mobil atau sepatu, tapi karena adanya parameter kepantasan.

Pertimbangan kepantasan adalah urusan etika, urusan akhlak. Sesuatu yang tak lagi dipahami, boro-boro dijalani.

Tentang Hal Baik

Media sosial semacam Facebook dan semacamnya memang seringkali melelahkan, terutama buat generasi saya, apalagi diatas saya. Saya paham betul bagaimana mereka terus beradaptasi.

Saya pribadi telah aktif menggunakan Facebook dan Twitter sejak 2009. Awalnya untuk personal, lalu melebar untuk kegiatan komunitas dan makin melebar untuk kegiatan bisnis dan komersial. Fungsi-fungsi itu masih melekat sampai hari ini, 10 tahun kemudian. Andaikata fungsi komunitas dan bisnis itu tak lagi ada, mungkin sudah lama saya meninggalkan media sosial.

Sudah ada banyak sekali artikel yang menulis bagaimana metode menyaring berbagai informasi di media sosial. Rasanya tak cerdas juga kalau saya masih membahasnya disini. Namun intinya, kedaulatan ada di tangan kita.

Contoh kecil, saya tak segan memblokir akun-akun yang acapkali mem-posting konten-konten hoaks dan provokatif. Sering dan selalu saja ada, dan mungkin akan selalu ada.

Ibarat cuaca. Saat cuaca pancaroba berdebu dan semacamnya, kita sering jatuh sakit. Persoalannya bukan pada cuacanya, tapi lebih kepada tingkat daya tahan tubuh kita yang turun, atau intesitas kegiatan kita yang meninggi, tak sebanding dengan asupan gizi ke dalam tubuh.

Hoaks dan berita-berita remeh itu layaknya debu-debu cuaca. Memang seringkali menyesakkan memenuhi dada.

Saya masih dalam posisi menganjurkan untuk terus menggunakan media sosial. Terus menginspirasi serta menularkan berbagai berita baik dari seluruh penjuru dunia.

Panjang umur hal-hal baik!

Tentang Terompet Haram

Meniup terompet saat perayaan tahun baru itu haram.

Saya belum paham, yang haram meniupnya, terompetnya atau merayakannya atau tahun barunya?

Kalau ‘meniup’ ya kayanya gak haram lah, setiap hari kan banyak itu orang niupin kopi panas. Masa haram. Atau ya beli saja terompet tapi ga usah ditiup, dipencet aja.

Kalau ‘terompet’ yang haram, ya sangat bisa sih, kalau terompet itu anda dapet dari memalak atau belinya pake uang hasil nyolong.

Kalau ‘perayaannya’ yang haram, ya tergantung cara anda merayakan. Kalau merayakannya di rumah cuma bertigaan nonton tipi sambil makan tahu goreng, ya masa haram.

Kalau ‘tahun baru’ itu kan cuma persoalan konsep sederhana saja. Kadang manusia itu perlu menciptakan momentum untuk memperbarui dirinya. Karena waktu tidak akan pernah bisa kita putar ke belakang, pada dasarnya setiap hari adalah hari yang baru, bahkan setiap detik adalah detik yang baru. Aslinya ya ga perlu menunggu tanggal 31 desember tepat pukul 24:00 untuk merayakan kebaruan.

Demikian tulisan saya, sambil nunggu istri belanja bulanan.