Karya Anak Bangsa

Sepeda motor Yamaha, meski komponen lokalnya telah mencapai 94%, diproduksi dan dirakit di Indonesia oleh pekerja-pekerja yang juga asal Indonesia, tetaplah tak disebut “karya anak bangsa”, karena nama mereknya adalah Yamaha asal Jepang.

Meski nanti komponen lokalnya sudah 100%, dan teknologi manufakturnya dikembangkan seluruhnya oleh orang Indonesia, karyawan, direktur serta komisarisnya orang Indonesia asli, tetap dia bukan “karya anak bangsa”.

Sampai dengan dia berganti nama dengan merek Yamacuk. Nah! Itu baru karya anak bangsa!

Bukan Masalah Kita Bersama

“Masalah kebakaran hutan dan lahan adalah masalah kita bersama,” tulis seorang kawan di dinding media sosialnya.

Tidak. Itu bukan masalah kita bersama. Itu masalah kalian. Saya gak pernah membakar hutan, saya juga bukan pejabat atau aparat yang diberi mandat dan dibayar untuk menjaga hutan dan menegakkan hukum. Gak ada hubungan itu semua dengan saya, mas.

Kapan lalu juga dibilang, “masalah penyalahgunaan narkoba adalah masalah kita bersama”, pemberantasan korupsi juga dibilang “masalah kita bersama”.

Waktu lewat kantor polisi, saya lihat poster besar bertuliskan “keamanan dan ketertiban adalah tanggung jawab kita bersama”.

Saya sih taat hukum dan pasti tertib, tapi menjaga ketertiban dan keamanan itu tanggung jawab polisi lah, masa tanggung jawab saya juga. Kapan saya kerja nyari duitnya kalo harus bertanggung jawab atas keamanan juga?

Semuanya bersama. Kenapa kalau ada masalah besar ngajak-ngajak bersama. Mbok uang gaji dan fasilitas kalian itu yang dijadikan harta bersama. Sini, kasi duitnya, itu duit kita bersama. Nah, giliran enak-enak, ga mau bersama.

Besok-besok kita bikin poster “cicilan hutang saya adalah masalah kita bersama”.

Demo Gen-Z

Di tengah belum selesainya kegagapan atas fenomena-fenomena generasi milenial, lahirlah Generasi Z. Mereka lah para mahasiswa yang kemarin turun ke jalan berdemonstrasi.

Gen-Z adalah generasi internet. Mereka lahir dan besar bersama teknologi internet. Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, artinya orang yang paling tua dari Generasi Z Indonesia berumur 23 tahun: mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, mencari atau sudah punya pekerjaan, dan hal-hal lain yang bisa memengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Perbedaan generasi ini dengan Milenial cukup banyak. Salah satunya, mereka jauh lebih terdidik. Jika perbandingan sarjana pada Generasi Baby Boomers adalah 1 banding 5, sementara Generasi X adalah 1 banding 4, dan Generasi Milenial alias Gen Y adalah 1 banding 3, maka Generasi Z diisi 1 banding 2 orang. Selain punya lebih banyak sarjana, mereka juga memulai sekolah lebih awal dari generasi sebelumnya.

Saya sendiri aslinya tidak terlalu tertarik mempelajari generasi Z, kecuali untuk riset dan keperluan bisnis. Tantangan saya tentu saat berhadapan dengan anak saya, ia ada pada generasi alfa, generasi setelah generasi Z. Paling tua berumur 5-7 tahun. Dunia belum mampu mengidentifikasinya. Gelap.

Di tengah belum selesainya kegagapan atas fenomena-fenomena generasi milenial, lahirlah Generasi Z. Mereka lah para mahasiswa yang kemarin turun ke jalan berdemonstrasi.

Gen-Z adalah generasi internet. Mereka lahir dan besar bersama teknologi internet. Generasi Z pertama adalah mereka yang lahir pada 1995, artinya orang yang paling tua dari Generasi Z Indonesia berumur 23 tahun: mereka sudah beranjak dewasa, sudah ikut pemilu, mencari atau sudah punya pekerjaan, dan hal-hal lain yang bisa memengaruhi ekonomi, politik, dan kehidupan sosial dunia kini.

Perbedaan generasi ini dengan Milenial cukup banyak. Salah satunya, mereka jauh lebih terdidik. Jika perbandingan sarjana pada Generasi Baby Boomers adalah 1 banding 5, sementara Generasi X adalah 1 banding 4, dan Generasi Milenial alias Gen Y adalah 1 banding 3, maka Generasi Z diisi 1 banding 2 orang. Selain punya lebih banyak sarjana, mereka juga memulai sekolah lebih awal dari generasi sebelumnya.

Saya sendiri aslinya tidak terlalu tertarik mempelajari generasi Z, kecuali untuk riset dan keperluan bisnis. Tantangan saya tentu saat berhadapan dengan anak saya, ia ada pada generasi alfa, generasi setelah generasi Z. Paling tua berumur 5-7 tahun. Dunia belum mampu mengidentifikasinya. Gel

Teman Facebook

Teman mestinya saling mengamankan dan membuat nyaman satu sama lain. Namun, itu kan idealnya, teorinya, tak banyak berlaku apalagi di media sosial seperti Facebook ini. Teman di Facebook berbeda, mereka adalah audiens meski sebutannya teman atau ‘friends’.

Saya kagum dengan para pengguna Facebook yang memiliki teman yang setiap harinya hanya membagikan berita-berita tentang politik-politik remeh tapi masih sabar berteman. Bahkan temannya sehari bisa berkali-kali mengupdate status yang isinya cibiran dan hinaan pada seseorang, tetap saja ia sabar tak berkomentar apa-apa.

Memang, sebagai audiens (bukan teman) kita tak punya banyak pilihan, paling tidak hanya ada dua pilihan: mendengar ocehan mereka atau meninggalkan pertemanan dengan meng-unfollow atau menyembunyikan postingan. Tapi, mereka menyadari bahwa pertemanan —atau bahkan persaudaraan— jauh lebih tinggi daripada cuma politik lima tahunan.

Mereka juga harus menghadapi ketidaktepatan berpikir dan banyak kemelesetan nalar dari teman-teman yang dicintainya. Misalnya, ketidakmampuan teman-temannya dalam membeda antara membenci manusianya atau membenci perilakunya.

Kerap seorang manusia direndah-rendahkan kemanusiaannya, karena tindakan salahnya yang dia lakukan pada beberapa menit hidupnya saja. Tak cuma dia, anak-anaknya, menantunya, tak dianggap manusia lagi, ikut menjadi iblis bahkan lebih rendah lagi. Padahal, kitab suci sudah memberi banyak contoh, seperti binatang babi yang tak otomatis haram meski memakannya adalah haram.

Tapi tentu saja, itu semua masih kalah tinggi dengan rasa pertemanan dan persaudaraan yang dimiliki mereka. Mereka memilih untuk diam tak berkomentar, sesekali mengklik ‘emot jempol’ sebagai tanda kasih sayang.

Sampai Tahun Kuda

Saat nanti mandat diraih, persoalan berikutnya selalu sama, yaitu menentukan siapa-siapa yang paling berjasa mengantar kemenangan, sebab kelompok-kelompok itulah yang paling besar akan mendapat kavling garapan. Pertempuran “yang paling berjasa” tak akan berlangsung lama, kita menyebutnya dengan “masa transisi”.

Pekerjaan besar pun lalu dimulai. Infanteri disebar ke penjuru cabang hingga ranting. Mengeruk laba sebesar-besarnya dan kuasa sekuat-kuatnya hingga ke akar-akar. Tujuan praktisnya untuk bertahan hidup, tujuan ideologisnya agar modal tetap terjaga pada lima tahun setelahnya.

Begitu terus sampai tahun kuda.