Tentang Hal Baik

Media sosial semacam Facebook dan semacamnya memang seringkali melelahkan, terutama buat generasi saya, apalagi diatas saya. Saya paham betul bagaimana mereka terus beradaptasi.

Saya pribadi telah aktif menggunakan Facebook dan Twitter sejak 2009. Awalnya untuk personal, lalu melebar untuk kegiatan komunitas dan makin melebar untuk kegiatan bisnis dan komersial. Fungsi-fungsi itu masih melekat sampai hari ini, 10 tahun kemudian. Andaikata fungsi komunitas dan bisnis itu tak lagi ada, mungkin sudah lama saya meninggalkan media sosial.

Sudah ada banyak sekali artikel yang menulis bagaimana metode menyaring berbagai informasi di media sosial. Rasanya tak cerdas juga kalau saya masih membahasnya disini. Namun intinya, kedaulatan ada di tangan kita.

Contoh kecil, saya tak segan memblokir akun-akun yang acapkali mem-posting konten-konten hoaks dan provokatif. Sering dan selalu saja ada, dan mungkin akan selalu ada.

Ibarat cuaca. Saat cuaca pancaroba berdebu dan semacamnya, kita sering jatuh sakit. Persoalannya bukan pada cuacanya, tapi lebih kepada tingkat daya tahan tubuh kita yang turun, atau intesitas kegiatan kita yang meninggi, tak sebanding dengan asupan gizi ke dalam tubuh.

Hoaks dan berita-berita remeh itu layaknya debu-debu cuaca. Memang seringkali menyesakkan memenuhi dada.

Saya masih dalam posisi menganjurkan untuk terus menggunakan media sosial. Terus menginspirasi serta menularkan berbagai berita baik dari seluruh penjuru dunia.

Panjang umur hal-hal baik!