Rasanya Iya

Pertanyaan rasional pada setiap periode akhir lima tahun kepemimpinan nasional: apakah janji-janji yang pernah dilontarkan saat kampanye dulu telah dipenuhi?

Caranya mudah. Riset kecil-kecilan. Cek lagi berita tentang janji-janji politik mereka yang tersebar di media-media, pada empat-lima tahun lalu, lalu dicari data pencapaiannya hari ini. Jejak datanya banyak.

Alat ukur semacam ini dapat diberlakukan bukan cuma untuk menilai kinerja presiden yang kini sedang menjabat, tapi juga anggota-anggota legislatif pusat dan daerah. Anggota DPR/DPRD tuh malah yang paling sporadis mengobral janji.

Karena bisa saja, mereka giat bekerja, pencapaiannya luar biasa, tapi beda sama janjinya. Misal, dulu janji “kalo saya menang, saya janji akan menghasilkan padi besar-besaran” tapi setelah menjabat malah panen timun. Memang panen besar, tapi kan janjinya padi bukan timun. Misal lho ya…

Setelah kita tahu hasilnya, lalu bagaimana? Ya, menurut saya, cukup disimpan untuk sendiri saja. Minimal kita punya modal rasional untuk memilih presiden/wapres dan anggota legislatif berikutnya. Konsekuensi logisnya: kalau berhasil ya dipilih lagi; kalau tak memenuhi janji, bisa dua pilihan: dikasi kesempatan lagi atau pilih calon lainnya.

Jadi, kita tak perlu saling berdebat. Setiap manusia kan sudah dimodalin mesin yang namanya akal, tinggal digunakan. Begitulah, minimal, cara intelektual menguji tingkat intelektualitasnya.

Berbeda kalau urusannya adalah rasa. Maka baiknya anda menghindari menggunakan kalimat “saya pikir dia yang terbaik”, gunakan kalimat “saya rasa dia yang terbaik”. Repotnya, urusan perasaan ini sulit buat dijadikan materi debat.

Tapi ya dasar manusia, memang hobinya mempersoalkan rasa. Kita getol berdebat, mana yang terbaik: mi rasa soto ayam atau mi rasa kari ayam. Sampai lupa, kalau itu cuma mi instan pake perasa. Rasanya kaya soto ayam, mirip-mirip, tapi itu bukan soto ayam.

Rasanya, tulisan ini juga jadi kepanjangan.