Freeport Nanti

Kita ucapkan selamat kepada pemerintah yang telah membeli/mengambil-alih/mengakuisi atau apapun namanya, 51% saham Freeport. Ayo lanjutkan kehebatannya.

Buat masyarakat, jangan berhenti pada glorifikasi kehebatan-kehebatan. Tak lagi seperti dulu, per sekarang, jika masyarakat Papua masih tidak bisa disejahterakan, jika daerah Mimika masih ada yang miskin, jika masih ada pencemaran lingkungan, jika masih tidak ada perlindungan tenaga kerja di Freeport, ingat: kita tak boleh lagi menyalahkan asing. Kini kita mulai bisa menyalahkan Pemerintah Indonesia, pemilik mayoritas saham Freeport, sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Atau yang paling riil aja, yaitu pendapatan negara atau uang. Kita tunggu, setahun lagi, berapa triliun rupiah yang akan didapat pemerintah dari Freeport. Harusnya bisa puluhan trilyun, atau mestinya bisa ratusan trilyun.

Jangan lagi pendapatan negara dari gunung emas (menurut Kemenperin, sejak 1995-2014 pendapatan negara dari Freeport rata-rata 8 trilyun per tahun) masih kalah sama pendapatan negara dari cukai tembakau yang pertahunnya bisa 100-139 trilyun pertahunnya. Padahal bisnis tembakau udah dihajar sana-sini.

Masa punya gunung emas tapi masih kalah sama tembakau? Malu dong ama mbah-mbah petani tembakau di Temanggung. Apalagi sekarang sudah pemilik saham mayoritas.