Lawan Bukan Musuh

Tentu ada beda antara musuh politik (political enemy) dan lawan politik (political adversary). Repotnya, di KBBI “musuh” diartikan sama dengan “lawan”. Padahal, hubungan antara dua kubu yang berbeda dalam demokrasi bukan berarti permusuhan melainkan persaingan.

Eksistensi lawan politik sebagai sebuah entitas wajib dihargai dan diberi ruang manakala mereka sedang membela gagasan yang diyakini kebenarannya.

Apalagi saat kompetisi elektoral yang hanya menyisakan dua kubu seperti yang terjadi saat ini. Perbedaan memang harus dipertajam.

Coba saja kita berpikir, memang apa sih bedanya antara dua kelompok ini? Hal baru apa yang ditawarkan? Tentu secara umum akan sama-sama saja. Meningkatkan kesejahteraan, menambah lapangan kerja, membuka akses pendidikan dan kesehatan semurah-murahnya dan sebaik-baiknya, dan berbagai macam visi dan misi yang sebenarnya sudah diatur semua di konstitusi kita.

Kita sebagai rakyat mustinya tak perlu menuntut akses kesehatan yang murah dan pendidikan yang berkualitas, sebab konstitusi sudah mewajibkan negara untuk menyediakannya.

Maka, akhirnya isu-isu yang dipertajam memang isu-isu yang membuat diferensiasi diantara keduanya, salah satunya adalah politik identitas.

Lawan politik sangat diperlukan dalam proses demokratisasi. Perbedaan harus dihargai dan diberi ruang. Sebab, jika kita mengabaikan itu semua hanya karena selera politik kita, maka kita sama saja dengan ikut menumbuhkan benih-benih otoritarianisme dan absolutisme.