Rumah Kaca

Ini bukan hipotesa, tapi yang pasti ini bukan prasangka. Beberapa kali saya membuat beragam jenis pernyataan untuk dilempar ke jejaring sosial pertemanan. Hasilnya memang mengkhawatirkan.

Suasana politik elektoral membuat cuaca menjadi makin tak sehat. Makin hari terasa makin sesak. Sesama kawan pun kini saling tak percaya. Bukan lagi kalimat dan pernyataan, diksi-diksi kini juga dijadikan perdebatan. Salah memilih diksi, habislah kamu. Majas tak dikenal lagi. Mereka hanya paham kalimat-kalimat sederhana. Pseudo dimana-mana.

Orang bilang, berita bohong dan propaganda hanya bisa kena ke orang-orang yang tak berpendidikan. Salah. Itu tidak benar. Banyak orang berpendidikan kini tak mampu lagi membedakan mana opini, mana data, mana berita, mana jurnalisme, dll. Kebodohan telah menggurita, melanda orang tua, anak muda, sarjana hingga petinggi organisasi massa, orang-orang yang justru kita andalkan intelektualitasnya untuk menjaga.

Beruntunglah mereka yang masih memiliki keluarga dan komunitas yang masih menjaga kesehatan akal. Mau tak mau, kita musti membuat rumah-rumah kaca, sebab di luar sana cuaca sudah sangat polusi, menggelapkan mata, pikiran hingga hati. Kita musti membuat ekosistem sendiri.

Pada rumah-rumah kaca itu kita tanam benih-benih. Kita olah sebaik-baiknya, meski dengan keterbatasan-keterbatasan. Menjaganya dari hama dan pupuk kimia perusak organisme.