Oposan

Pihak oposisi itu pasti mengeksploitasi kekurangan dari pihak penguasa. Sebaliknya, pihak penguasa pastilah mengeksploitasi data-data keberhasilannya. Apalagi di masa kampanye. Keadaan seperti itu wajar dan terjadi dimana-mana, di seluruh dunia.

Jadi, kalau ada yang berkomentar “oposisi ini lho, yang dilihat kok jeleknya pemerintah terus” atau sebaliknya “pemerintah ini lho, yang dipresentasikan kok bagus-bagusnya aja” — itu justru yang mestinya bikin saya bingung, karena memang seperti itu sudah sewajarnya.

Misalnya, untuk menjaga keseimbangan kekuasaan itu bahkan dibuat Pemilu sela pada sistem tata negara di Amerika. Dibuatlah pemilu di tengah jalan kekuasaan. Trennya, partai penguasa seringkali kehilangan kursi di pemilu sela. Seperti yang terjadi hari ini, DPR Amerika tak lagi dikuasai Partai Republik, sehingga kebijakan-kebijakan Presiden Trump gak bakal mulus, ia akan mendapat perlawanan, paling tidak di sisi anggaran.

Obama pun merasakan itu sebelumnya. Saat tengah berkuasa, partainya kalah di pemilu sela. Kebijakannya dihantam habis-habisan di DPR. Pemerintahan Obama akhirnya di shut-down DPR, uang anggaran tak dikeluarkan, pemerintahan Obama tak bisa bayar gaji pegawai-pegawainya selama beberapa bulan, sampai akhirnya ia melunak.

Jadi, santai saja lah.