Coblos Tiga

Kawanku, seorang calon anggota legislatif daerah (Caleg DPRD) sebuah kabupaten di Jawa Barat tampak kebingungan. Pada poster yang dibagikan ke kawan-kawannya di media sosial dan grup-grup pesan, ia menyandingkan foto dan nomor dirinya dengan calon anggota legislatif pusat (Caleg DPR) dari partai yang sama.

Tampaknya, tren “kampanye bersama” ini kian marak. Caleg DPR menggandeng Caleg DPRD pada daerah pemilihan sama untuk berkolaborasi membuat iklan-iklan promosi. Efisien sih. Tapi ya itu tadi, terlihat kebingungan.

Memang, pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan anggota legislatif (Pileg) yang dilaksanakan bersamaan kali ini membawa banyak implikasi. Partai-partai politik berebutan mengidentikan partainya dengan calon presiden.

Coat-tail effect katanya, istilah yang menggambarkan limpahan suara yang didapat oleh partai-partai politik akibat popularitas calon presiden yang diusungnya. Istilah ini muncul di Amerika saat terpilihnya Warren Harding sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 1920-an.

Meski penggambaran itu juga tak tepat menurutku. Populisme sudah mulai subur sejak reformasi dua puluh tahun lalu. Pilpres kali ini pun tak jauh dari itu.

Termasuk kawanku ini, selain calon anggota DPR, tampak juga calon presiden pilihan partainya juga ikut menghiasi posternya. Jadi, ada tiga sosok disana.

Aku tak terlalu peduli, Pileg bersamaan dengan Pilpres. Peduliku pada pendidikan politik. Proses elektoral lima tahunan ini seharusnya menjadi media pembelajaran bagi rakyat. Namun, kini pemilih justru semakin dijauhkan dari rasionalitas politik.

Tak berapa lama setelah mengirimkan poster promosi dirinya, kawanku membalas pesannya sendiri, “Oh iya, maaf mas, mas kan gak nyoblos di Tasikmalaya ya? Tapi tetap Jokowi kan? Hehe.” Saya membalas, ikut “Hehehe.”