Audiens Jempol

Teman mestinya saling mengamankan dan membuat nyaman satu sama lain. Namun, itu kan idealnya, teorinya, tak banyak berlaku apalagi di media sosial. Teman di media sosial berbeda, mereka adalah audiens meski sebutannya teman atau ‘friends’.

Aku kagum dengan para pengguna Facebook yang memiliki teman yang setiap harinya hanya membagikan berita-berita tentang politik-politik remeh tapi masih sabar berteman. Bahkan temannya sehari bisa berkali-kali mengupdate status yang isinya cibiran dan hinaan pada seseorang, tetap saja ia sabar tak berkomentar apa-apa.

Memang, sebagai audiens (bukan teman) kita tak punya banyak pilihan, paling tidak hanya ada dua pilihan: mendengar ocehan mereka atau meninggalkan pertemanan dengan meng-unfollow atau menyembunyikan posting-an. Tapi, mereka menyadari bahwa pertemanan (atau persaudaraan) jauh lebih tinggi daripada cuma politik lima tahunan.

Mereka juga harus menghadapi ketidaktepatan berpikir dan banyak kemelesetan nalar dari teman-teman yang dicintainya. Misalnya saja, ketidakmampuan teman-temannya dalam membeda antara membenci manusianya atau membenci perilakunya.

Kerap seorang manusia direndah-rendahkan kemanusiaannya, karena tindakan salahnya yang dia lakukan pada beberapa menit hidupnya saja. Tak cuma dia, anak-anaknya, menantunya, tak dianggap manusia lagi, ikut menjadi iblis bahkan lebih rendah lagi. Padahal, kitab suci sudah memberi banyak contoh, seperti binatang babi yang tak otomatis haram meski memakannya adalah haram.

Tapi tentu saja, itu semua masih kalah tinggi dengan rasa pertemanan dan persaudaraan yang dimiliki mereka. Mereka memilih untuk diam tak berkomentar, sesekali mengklik ‘emot jempol’ sebagai tanda kasih sayang.