Mahasiswa Amnesia

Pada tahun 1998, para aktivis demokrasi, masyarakat, anak-anak muda dan para mahasiswa turun ke jalan, mereka menyebut IMF dengan istilah “rentenir global”, “neo kapitalis” dan sebagainya. Heroik.

 

Kini, 20 tahun kemudian, para aktivis dan mahasiswa itu duduk di kekuasaan, ada yang jadi petinggi pemerintahan dan petinggi Parpol. Mereka beramai-ramai menertawakan orang-orang yang menyebut IMF sebagai rentenir global. Menunjukkan data-data yang (terlihat) ilmiah, sembari mencibir (yang katanya) kebodohan.

Mereka tak sadar, mereka sedang menertawakan dirinya sendiri. Mereka lupa, amnesia, bahwa mereka juga lah yang meneriakkan isu itu, 20 tahun lalu pada sebuah gerakan (reformasi) yang karenanya derajat mereka terangkat di titik hari ini.

Ah tak usahlah kita berdebat panjang. Apalagi tentang isu rente global. Perdebatan kini justru makin remeh, tentang persoalan “peserta IMF itu makannya siapa yang bayarin”.

Saya juga bingung, dulu pun banyak spanduk “Bubarkan Golkar” dll yang diteriakkan para mahasiswa gerbong perubahan ini, toh ya nasibnya sama dengan si IMF ini. Bukan cuma dilupakan, tapi ditolak ke”ada”annya.

Atau mungkin… hanya aku saja yang berhalusinasi. Aku yang tak normal.

Hari ini, anak-anak muda takut menyebut “IMF rentenir global”, mereka takut kena pasal hoaks dan ujaran kebencian, mereka takut dipenjara. ”Mending kita main tik-tok atau nyari spot bagus buat posting di Instagram,” kata anak-anak muda itu.