Time Flies. Why?

Istri saya bercerita. Ketakutannya menjadi pengangguran yang gak ada kerjaan, saat ia memilih mengundurkan diri dari bekerja kantoran enam bulan lalu, tak terbukti. “Kok aku malah makin sibuk ya, Yah?” ujarnya suatu kali. Saya meringis mendengarnya, karena saya tahu itu semua bukan hal sentimentil.

Banyak penelitian, dari sisi neurosains hingga biokimia bisa menjelaskan itu. Secara ilmu psikologi pun juga bisa.

Dari sisi biokimia, ada hubungan kuat antara jumlah dopamine yang terlepas dari otak dengan melambannya waktu. Dopamine yang terlepas itu umumnya akan jauh menurun ketika seseorang menginjak umur 20-an. Lepas usia remaja, kita tak lagi ketemu hal baru, problema baru, tantangan-tantangan baru.

Apa itu dopamine dan apa yang menyebabkannya terlepas? Ini saya copas-kan saja dari Google:

It is released during pleasurable situations and stimulates one to seek out the pleasurable activity or occupation. This means food, sex, and several drugs of abuse are also stimulants of dopamine release in the brain, particularly in areas such as the nucleus accumbens and prefrontal cortex.

Nah, dengan makin jarangnya otak kita melepas dopamine, makin nganggur otak kita, makin cepatlah waktu berjalan. Sebenarnya gak cepat juga, cuma cepatnya waktu berjalan gak sebanding dengan hal-hal yang kita lakukan hari itu. Kita merasa sia-sia, seperti tak banyak memperoleh apa-apa. Logikanya sama: 24 jam. Namun setiap orang bisa melaluinya dengan experience yang berbeda-beda.

Rutinitas bekerja, bergaul, yang “begitu-begitu saja”, pastinya punya pengaruh besar. Gak ada hal baru dan melakukan hal yang itu-itu saja, di jam yang sama, pada ruangan yang sama, dengan bau atau aroma yang sama. Setiap hari.

Sebabnya, otak perlu bekerja dengan persoalan-persoalan baru. Tanpa itu, otak kita nganggur, dopamine pun tak terlepas. And time flies…

Berbeda dengan saat ia bekerja kantoran, kini istri saya menghadapi anak yang terus tumbuh, dan jenis pertumbuhannya selalu baru sehingga diperlukan metode dan cara-cara baru untuk memahaminya, setiap hari.

Siang hari Rian bermain balok, sore harinya permainan balok tak lagi menarik buatnya. Ia lalu membuka kantung baju kotor, lalu masuk kedalamnya. Keluar lalu masuk dan diam didalamnya beberapa lama. Entah apa yang diimajinasikannya. Istri saya bekerja keras memahami. Hal seperti itu terjadi setiap hari. Otaknya bekerja keras, ada persoalan baru.

Jadi, saya tidak menyarankan anda untuk resign dari pekerjaan. Tidak.

Don’t just float through life. Do different things as often as you can. Learn something new. Push yourself. Set a goal, even a silly goal, and work to achieve it. When it does, the passage of time will slow dramatically.