Bukan Milik Saya

Seorang laki-laki datang membawa kardus di tangan dan tas di punggungnya, ia lalu duduk sebelah saya. Pada sebuah kursi panjang untuk empat orang, saya persilakan ia duduk dan saya pastikan tak ada barang yang menghalangi kursi bagiannya. Kami duduk berdua. Ia di ujung satu, saya di ujung lain.

Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta terlihat lengang, dalam ukuran arus balik lebaran, malam itu boleh dikata terlihat lengang. Saya menjemput anak, istri mertua dan adik ipar yang beberapa hari berlebaran di kampung halaman mereka, Pekanbaru. Tak lama, ia memberi kabar bahwa mereka telah mendarat. Tak sabar saya ingin lihat wajah Rian, anak saya.

Menunggu mereka keluar, saya luangkan waktu mengurut timeline Twitter. Saya me-retweet sebuah akun yang membahas Nabi tentang orang-orang yang masuk surga dengan hisab ringan. Berikut kata Nabi, “Beri orang yang merampas milikmu, maafkan yang menzalimimu, jaga hubungan dengan orang yang memutuskannya.” Lalu melanjutkan dengan membaca cuitan-cuitan Donald Trump yang “menghibur” itu. Saya asyik sendiri.

Tak lama, laki-laki itu menunjuk sepotong jaket merah ukuran kecil yang ada di bawah kursi kami, bertanya, “Jaket ini punya Mas?” Saya balas, “Oh bukan. Barang itu sudah ada sejak saya duduk.” Laki-laki itu diam, tak lama ia bersiap hendak pergi, dan kembali melihat saya dan bertanya, “Saya bawa ya, Mas? Bisa buat anak saya di rumah.”

Sambil terus memperhatikan cuitan Presiden Amerika yang berambut aneh itu, saya jawab, “Ya silakan, Mas.” Ia lantas menaruh jaket merah kecil itu di atas tumpukan kardusnya dan melangkah berjalan pergi menuju halte bus Damri.

Sepuluh menit kemudian, saya bersama Rian. Berlarian mengejarnya kesana-kemari. Dua tahun umurnya, laki-laki, dan begitu aktif mengejar semua hal yang tampak bergerak di depan matanya.

Tak lama, saya berpikir dan menyesali kalimat yang saya lontarkan ke laki-laki yang pergi membawa jaket merah itu. Jaket itu bukan miliknya, juga bukan milik saya. Hak apa yang membolehkan saya mengijinkannya membawa? Saya mulai menyesalinya. Kalau saja saya kembali ke sepuluh menit sebelumnya, mungkin ini yang akan saya katakan, “Maaf pak, jaket itu bukan milik saya, saya gak bisa mengijinkan atau tidak,” atau, “Maaf pak, tapi itu kan bukan milik bapak?

Ada banyak, puluhan simulasi kalimat di kepala saya, kenapa tak saya lontarkan saat itu? Saya coba tebus dengan menuliskannya disini.


 

Posted in Tak Berkategori