Teknologi Membaca

Kekhawatiran yang beberapa tahun lalu saya tulis kini makin terasa. Bisa kita amati, anak-anak muda dengan range usia 15–24 tahun kini tampaknya mulai mengalami kesulitan dalam membaca. Bukan malas membaca, tapi intensitas  — atau boleh dibilang: kedalaman —  membaca makin terus berkurang. Jarang ditemukan pemandangan anak-anak muda berjalan membawa novel atau duduk tekun di halte bus membaca majalah, layaknya pemandangan seperti masa kuliah saya dulu. Saat itu, hampir pada setiap waktu jeda atau istirahat, banyak orang masih memegang buku sambil berdiri ngobrol. Kadang mereka saling diskusi atau tukar menukar literatur. Saya masih merasakan, nuansa saat dulu membaca novel Pramoedya Ananta Toer, atau Madilog karya Tan Malaka.

Media Digital

Media digital punya peran tinggi membentuk “kemalasan” itu, apalagi kini banyak aplikasi digital reader, juga situs-situs online juga telah banyak memberi kontribusi informasi yang tak ada habis-habisnya untuk dieksplorasi.

Bahkan untuk mengadaptasi kebiasaan “malas membaca” ini, dalam sebuah artikel di situs The Next Web disampaikan, bagaimana pengetahuan analisis neuroscience kini diperlukan untuk mengkontruksi sebuah website. Mata kita, khususnya dalam hal kemampuan membaca, secara rata-rata hanya sanggup membaca 7 hingga 9 kata untuk kemudian diprosesnya selanjutnya di otak. Saat kita memindai suatu kalimat tidak ada proses yang bekerja di otak saat itu. Mata memindai, merekam secara visual, kemudian barulah dikirim untuk selanjutnya diproses di otak.

Dengan arti kata, makin lama atau makin nyaman seseorang membaca sebuah artikel laman, makin banyak kata yang diserap dalam interval tadi dan makin banyak informasi pesan yang disimpan di otaknya.

Kenyamanan pembaca ini juga diyakini oleh para peneliti sangat berhubungan dengan jenis font dan layout yang digunakan, ia merangsang saraf yang berhubungan langsung dengan amygdala  —  yaitu suatu area pada otak yang merespon emosi.

Dengan layout yang tepat, pembaca akan membaca dengan lebih pelan dan nyaman. Memberikan stimulus kognitif yang tinggi, juga proses mental yang efisien sehingga pembaca akan lebih cepat terinspirasi dan lebih cepat memberikan reaksi untuk selanjutnya melakukan aksi yang diharapkan.

Proses Amygdala

Otak pada dasarnya tidak dirancang untuk membaca. Tidak seperti kemampuan berbicara dan melihat, tidak ada gen (indera) membaca. Membaca adalah proses belajar diluar kemampuan dasar indera. Otak bersifat plastik dan secara konstan ia terus beradaptasi, selama umur hidup kita, termasuk beradaptasi dalam hal membaca.

Sebelum ada internet, otak membaca secara linier, satu halaman kemudian halaman selanjutnya, terus begitu. Kadang ada kombinasi gambar atau huruf-huruf yang didesain lebih besar dari teks utamanya, namun itu semua tak dimaksudkan untuk mengganggu ritme membaca kita  —  hal ini berbeda dengan media digital (website), gambar atau huruf yang ada diatas layout laman ini memang didesain untuk “mengganggu anda”, menggoda agar anda meng-klik tautan-tautan itu.

Jika anda pernah merasakan kenikmatan membaca novel, bahkan hanya dengan memperhatikan layout halaman tertentu dari novel itu, kita mampu mengingat kata kunci kata kunci. Kata kunci ini yang tersimpan dalam data-data di otak. Ini menjelaskan awal paragraf tulisan ini, yaitu; hingga kini saya masih mengingat nuansa membaca novel Pramoedya Ananta Toer.

Internet berbeda. Dengan sekian banyak informasi yang tersaji bersamaan dalam satu halaman; teks hyperlink, video-video, iklan, tautan artikel terkait, belum lagi dengan interaksi disana sini, memerlukan kemampuan adaptasi lebih pada otak kita untuk membuat shortcutshortcut baru. Proses membaca ini termasuk non-linier, dan secara bertahun-tahun telah menginvasi karakter dasar kita bukan hanya dalam membaca, namun juga dalam menganalisa medium-medium informasi lainnya.

We’re spending so much time touching, pushing, linking, scroll­ing and jumping through text that when we sit down with a novel, your daily habits of jumping, clicking, linking is just ingrained in you. We’re in this new era of information behavior, and we’re beginning to see the consequences of that.

Entah sudah berapa banyak syntax yang telah kita hilangkan di generasi ini. Berapa banyak rantai proses yang sudah terputus sambungannya, untuk beradaptasi pada budaya penggalian informasi cepat seperti sekarang. Belum lagi informasi-informasi cepat di Twitter yang hanya 140 karakter, pastinya sedikit banyak akan menghilangkan proses-proses panjang itu.

Tren desain website (khususnya news website) menariknya kini juga makin bergeser mengikuti analisa tadi. Dari era gaya friendster, yahoo news atau new york times, dimana terdapat banyak hyperlink di kanan-kiri pada satu halaman, kini bergeser ke era open space atau clear space. Terima kasih untuk Apple yang pertama kali mempopulerkan gaya ini. Situs Apple awalnya ‘dihina’ karena bergaya clear space, namun kini kita tahu alasannya.

Artikel terkait “clear space” bisa dibaca pada artikel Recent Trends In Storytelling And New Business Models For Publishers. Menarik untuk dikaji, project khusus yang dibuat oleh New York Times berdasarkan riset panjang pada tahun 2012, Snow Fall ,akhirnya sukses memenangkan Pulitzer Award untuk kategori Featured Writing.

1-daCJQnjnnsVbYt3X-KYnag


Tentu kita menunggu riset-riset lanjutan, apa relasi antara perkembangan pesat media digital dengan rontoknya budaya membaca pada media cetak (baca: buku) di generasi sekarang. Jika akhirnya pada jangka panjang, hal itu akan menumbuhkan generasi jenis lain, tentu ini harus segera kita pelajari mendalam.

Rasanya tidak bisa lagi, anak-anak kita musti segera diperkenalkan dengan buku, media fisik, mengenal bukan hanya visual di internet atau gambar, namun harus lebih dari itu; mengalami.

Researchers say that the differences between text and screen reading should be studied more thoroughly and that the differences should be dealt with in education, particularly with school-aged children. There are advantages to both ways of reading. There is potential for a bi-literate brain. We can’t turn back. We should be simultaneously reading to children from books, giving them print, helping them learn this slower mode, and at the same time steadily increasing their immersion into the technological, digital age. It’s both. We have to ask the question: What do we want to preserve?

Saya sendiri rindu masa-masa membaca yang dalam dan fokus. Menjelajahi novel dan literatur cetak, tak diganggu dengan gambar-gambar iklan, tautan-tautan, bahkan notifikasi dari email, sosial media dll. Saya rindu bagaimana rasanya sebelum tidur membayangkan huruf-huruf di buku itu seperti menari-nari di otak saya, mengganggu cara berpikir, menggoda ideologi. Saya rindu masa itu, tapi apakah anak-anak generasi sekarang punya kerinduan itu? Anak-anak generasi nanti? Apa kira-kira yang menari-nari di otak mereka sebelum tidur?

Dan, satu lagi: bagaimana sebuah wacana — brand, komunitas, news, dan apapun yang ingin men-deliver pesan-pesan — berstrategi dalam mengikuti tren ini adalah kunci memenangkan “pasar”, sebab generasi yang kita hadapi sekarang adalah generasi yang sejak lahir telah “berdarah” digital, dalam perilakunya, juga dalam pikirannya.

Technology has changed everything, including our brains.