USDEK

Minggu lalu, keluarga besar saya mengadakan hajatan pernikahan (walimatul ursy) yang bertempat di Rumah Niekmat Rasa, kota Solo, propinsi Jawa Tengah. Bukan istimewa jika saya menulis tentang perjalanan dan romantisme keluarga kami yang memang jarang mempunyai waktu berkualitas seperti kemarin. Juga tidak istimewa jika bercerita mengenai betapa rupawannya saya memakai setelan jas lengkap malam itu.

Yang layak untuk dibagi adalah format acara yang, menurut saya, sudah langka pada masa kini. Pada lembar undangan acara, ditentukan bahwa resepsi dimulai pada pukul 19.00, dan ajaibnya tepat pukul 19.00 semua tamu undangan sudah hadir dan duduk di tempat yang telah disiapkan.

Sebelumnya, ratusan kursi telah disediakan mengelilingi kursi pelaminan, konsep acara pernikahan dengan duduk di kursi juga sesuatu yang baru selain budaya datangnya undangan yang tepat pada waktunya tadi. ‘Baru’ disini bukan ‘baru’ dalam pengertian ‘tidak ada sebelumnya’ tetapi lebih karena saya yang tinggal di kota Jakarta, yang termyata ndeso tidak pernah mengenal kebudayaan lokalnya sendiri.

Setelah semua tamu hadir, duduk, maka dimulailah acara. Diawali oleh kirab keluarga bersama mempelai berjalan menyusuri para tamu. Saya sedikit bersyukur ketika itu, karena bukan laki-laki telanjang setengah dada dengan baju adat rok jawa dan cara jalan yang sangat amat lamban, yang di depan memimpin kirab. Trauma saya belum selesai, karena pada resepsi pernikahan adik perempuan saya sebelumnya, sosok laki-laki itulah yang memimpin kami kirab. Saya tidak tahu apa istilahnya sosok itu, tapi pasti sosok itu adalah lelaki yang sudah teruji kesabarannya, berjalan dengan sangat perlahannya itu.

Setelah selesai kirab, berurutan acara berdoa dan sambutan dari keluarga. Selesai itu, tiba-tiba saja terdengar lagu Celebration dan datanglah puluhan penyaji dengan membawa makanan di piring-piring, membagikannya pada para tamu. Piring pertama berisi jajanan, sepuluh menit kemudian meraka berhamburan keluar lagi membawa piring berisi sup ayam. Terus seperti itu dengan menu nasi dan lauknya, kemudian ditutup dengan es campur. Sembari piring dengan menu yang sama datang, berlangsung juga foto bersama dan sambutan-sambutan dari para tamu dan keluarga. Hingga selesai pada pukul 21.30.

Ada banyak makna didalam format hajatan seperti itu. Satu diantaranya adalah bahwa setiap tamu undangan diperlakukan sama layaknya keluarga, tidak ada makanan yang berlebih, tidak ada menu yang berbeda. Juga tidak ada tamu undangan yang harus ngantri berbaris hanya untuk sepiring kambing guling. Tidak seperti format prasmanan yang ‘menjauhkan’ antara mempelai-keluarga dan para tamu, pada format semacam tadi, terasa benar sambungan kekeluargaan terjalin. Tentu, budaya setempat juga memberi pengaruh, sehingga terjadi kompabilitas antara tamu yang datang, konsep acara dan makanan yang disajikan.

Tidak lama, Cak Nun berbisik ke saya, “Iki jenenge Usdek, Ron. Aku mang lali ngomong.” Saya membalas, “Usdek? Opo iku, Cak?” Beliau menjawab, “Unjukan (minuman), Sop, Dahar (makan), Es, Kondur (pulang).”

Semoga, semua acara yang sudah dilaksanakan dapat memberi bekal di kemudian hari untuk kedua mempelai. Dan meski tidak semua ustaz tahu apa artinya, kalimat Sakinah Mawaddah wa Rahmah juga layak disampaikan agar menjadi bekal untuk pengantin. Sakinah itu merumah atau ngomah, bertempat tinggal namun tidak hanya secara fisik tapi lebih ke rohani. Mawaddah pada dasarnya bermakna sama dengan mahabbah dari kata hubbun atau wuddun atau cinta. Hampir sama dengan kata warahmah/rahmah, yang pemakaiannya lebih untuk hal yang bersifat ruhaniah daripada jasmaniah. Perbedaannya adalah jika mawaddah masih ada tersisa pamrih atau alasan untuk mencintai, sedang rahmah tidak. Maka sakinah mawaddah belum paripurna jika tidak disertai dengan warahmah. Cinta sejatinya Cinta.

Bukan, itu tadi bukan tafsir saya, tapi tafsir yang dibisikkan kembali oleh Cak Nun ke telinga saya untuk saya sampaikan ke kedua mempelai. Namun tepatnya, juga sepertinya lebih ditujukan ke saya.