Ponzi Di Sekitar Kita

Anda tahu Charles Ponzi? Anda tahu Bernie Madoff? Tulisan saya sebelumnya Krisis Menuju Depresi menceritakan sedikit tentang dua orang ini. Masing-masing pada jamannya telah menghenyak wacana ekonomi di Amerika, tentang perilaku spekulatif pada pola ekonomi. Dan keduanya memakan korban dengan sangat massif dan terpola.

Charles Ponzi adalah cikal bakal pola ekonomi Multi Level Marketing, yang pada tingkat tertentu disalahgunakan. Skema Ponzi merupakan satu bentuk penipuan yang pada awalnya memang tidak direncanakan. Mungkin anda ingat kasus PT. QSAR, G Cosmos, Voucher Key, dll. Kasus semacam itulah yang dilakukan dengan pola seperti Charles Ponzi. Dengan modal investasi awal yang kecil menjadi besar, sehingga klien menceritakan pada relasi mengenai kesuksesan investasinya. Dan memang itu yang diharapkan, pada fase awal investasi, bunga dan keuntungan yang berlipat hampir pasti diperoleh, investor lama akan mendapatkan ‘komisi’ ketika berhasil merekrut investor baru. Pola piramida seperti ini, memang menguntungkan pihak yang ada di atas namun membuat orang yang ada di level bawah gigit jari ketika perusahaanya bangkrut. Pada banyak kasus terjadi kebangkrutan karena investasi yang masuk tidak berimbang dengan ekspansi usaha yang dilakukan, akhirnya terjadilah permainan aliran uang (money game). Pada titik kulminasi maka rubuhlah piramida yang dibangun bertahun-tahun, pada beberapa kasus bahkan kerubuhannya terjadi ketika pola yang dibangun sudah puluhan tahun.

Menarik jika kita membaca wawancara yang dilakukan oleh Charles Ponzi dengan Star Tribune pada tahun 1920, sangat terlihat bahwa ia tidak memahami, kenapa ia diputuskan bersalah oleh hukum. Ia merasa semua yang dilakukan bisnisnya sah dan legal. Sebagai catatan, kasus serupa yang terjadi pada Madoff (2008), tidak dianggap sebagai kriminalitas, hanya pelanggaran etika bisnis-

Baca wawancara Charles Ponzi dengan koran StarTribune pada 30 Juli 1920 di Boston.

Perilaku spekulatif tidak serta merta dilarang/diharamkan, namun dengan menangguk keuntungan diatas perilaku spekulatif masyarakatlah yang kemudian melahirkan sistem riba. Riba dilarang dalam kitab suci, hampir pada setiap tradisi agama-agama besar di dunia. Perilaku riba tidak hanya berkisar di seputar uang dan turunannya, pun tidak mutlak sama dengan bunga dalam definisi perbankan. Riba merupakan sesuatu kelebihan yang kita dapatkan, yang memang bukan bagian dari hak kita. Korupsi adalah riba. Mencuri itu riba. Naik haji tidak dengan niat karena Tuhan semata adalah juga riba. Maka sebenarnya perilaku riba lekat akrab dalam diri kita.

Riba Yurisprundensi

Tidak hanya masyarakat yang seharusnya belajar mengani pola ini, namun juga media dan pemerintah selaku regulator perekonomian. Pada kasus G Cosmos beberapa tahun lalu, koran Kompas turut mengiklankan pada awal-awal berdirinya, meski setelah dua tahun ada artikel yang menampilkan penipuan senilai 50 Milyar yang dilakukan pihak G Cosmos. Dalam banyak hal, jurnalis pun tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa lebih dalam mengenai hal semacam ini. Anda bisa lihat wacana mengenai media dan bisnis MLM di sini. Juga artikel di sini.

Sangat menarik bagaimana kali pertama pola ‘multi level marketing’ diperkenalkan. Charles Ponzi ditangkap pada tahun 1920 dengan tuntutan pidana penipuan. Ia sendiri tidak dengan sengaja sadar bahwa kasusnya akan dikenang sebagai salah satu yurisprundensi dalam sistem ekonomi dunia. Sejak saat itu, setiap kasus dengan pola yang serupa, diberi label Ponzi Scheme, seperti yang terjadi pada kasus Madoff akhir tahun 2008 lalu. Anda bisa klik kata Ponzi Scheme di mesin google, maka tampak ratusan forum-web-blog yang membahas kasus ini bahkan setelah hampir satu abad setelahnya.

Istilah yurisprundensi ekonomi adalah istilah penulis sendiri, dengan maksud bahwa seharusnya negara kita belajar menggolongkan suatu kasus yang pernah terjadi sebelumnya dalam suatu istilah resmi tertentu, khususnya dalam hal etika. Karena banyak kasus yang secara berulang-ulang terjadi tanpa kita belajar dari kasus tersebut. Kasus PT.QSAR dsb hanya kita sebut penipuan, mlm, investasi fiktif, dsb. Perlu ada semacam keyword/kata kunci dalam mengingat suatu kasus yang dianggap laten.

Umum terjadi di banyak negara, pun amerika, kanada, inggris melakukan hal semacam itu. Jika kita telusuri akan sangat banyak istilah-istilah yurisprundensi yang kadang terdengar lucu. Anda tahu mengapa dalam setiap adegan penangkapan oleh polisi di film amerika, selalu dimulai dengan perkataan polisi “anda berhak untuk diam …”, dan itu selalu ada pada setiap skenario film. Kalimat polisi tersebut memang faktual adanya, disebut miranda rules/miranda warning. Yaitu suatu kalimat-kalimat berisi hak-hak warga negara yang harus diperdengarkan kepada tersangka sebelum ia ditangkap.

Kalimatnya sebagai berikut,

You have the right to remain silent. Anything you say can and will be used against you in a court of law. You have the right to have an attorney present during questioning. If you cannot afford an attorney, one will be appointed for you. Do you understand these rights?

Wajibkah polisi memperdengarkan kalimat tersebut? Tidak, sampai tahun 1966 setelah kasus Ernesto Arturo Miranda, seorang penculik dan pemerkosa anak dibawah umur, yang hampir tidak dapat dihukum di pengadilan walau ia terbukti bersalah, karena ketika ia ditangkap, ia tidak diperdengarkan hak-haknya. Suatu pelajaran berharga bagi hukum setempat kemudian diterima masyarakat dan disebarkan oleh media hollywood.

Dalam sistem hukum positif di Indonesia, yurisprundensi adalah salah satu sumber hukum sebagai acuan bagi para Hakim untuk memutus suatu perkara yang sama sehingga menjadi sumber hukum yang memiliki kekuatan mengikat secara relatif.

Namun dalam banyak kasus hukum, yurisprudensi tidak dijadikan sebagai landasan hukum para hakim. Hakim dan aparat negara pun dengan latar konstelasi politiknya telah banyak melakukan riba-riba berkelanjutan.

“Apa yang kamu berikan dalam bentuk riba agar harta manusia bertambah, maka hal itu tidak bertambah di sisi Allah” (QS.ar-Rum : 39).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s