Hillary

Indonesia dengan satu atau dua alasan dijadikan salah satu tujuan awal misi diplomatik luar negeri Amerika. Bukan Obama tapi menteri luar negeri (Secretary Of State) yang datang ke negara kita. Bukan saja tidak biasa, namun kunjungan itu adalah kali pertama dalam sejarah.

Dalam tradisi, kunjungan diplomatik pertama setelah pemerintahan Amerika terbentuk, biasanya Eropa menjadi daerah kunjungan awal baru kemudian Asia. Namun kali ini benua Asia menjadi yang pertama dan dipilihlah Indonesia sebagai negara kedua yang dikunjungi. Mungkin saja karena Obama dan Indonesia mempunyai hubungan psikologi khusus, dengan latar belakang Obama yang pernah “mampir” di Indonesia, hingga ia memberikan mandat khusus untuk memberi perhatian yang juga khusus untuk Indonesia. 

Tidak seperti anggapan banyak kalangan, kesan Indonesia di mata Obama secara pribadi bukanlah suatu pengalaman yang membahagiakan. Dalam wawancara Obama dengan televisi lokal di Amerika, lama sebelum ia dicalonkan oleh Partai Demokrat sebagai Presiden Amerika Serikat, ia menggambarkan masyarakat Indonesia yang temperamen atau mudah sekali marah, “penduduknya akrab dengan kemiskinan“, dan yang paling teringat dalam benak Obama mengenai Indonesia adalah “suara orang berteriak di pengeras suara setiap pagi“, saya tebak pasti yang dimaksud adalah azan subuh. Tapi mungkin gambaran tersebut terngiang di kepala Obama karena memang kondisi ekonomi keluarga Obama ketika itu juga tidak makmur-makmur amat. Potret rakyat kecil dan masjid yang selalu “eksis” tampaknya memang wajar. Tentu Obama adalah orang yang luas hati dan pikirannya, pengalaman pribadi dan predikat sebagai Presiden Amerika Serikat adalah dua hal yang pastinya berbeda.

Mengapa Indonesia Penting

Jawaban pertama tentu adalah pasar konsumsi. Dengan 220 juta penduduk, sepertiganya adalah usia produktif, tentu pasar yang tidak mungkin dilewatkan begitu saja. Meski pendapatan per kapita Indonesia sepertiga lebih kecil dari China atau bahkan Jepang, tapi daya beli masyarakat kita jauh melampaui Amerika dan Eropa sekalipun.

Anda tidak percaya? Coba sesekali perhatikan orang yang berjualan mie ayam, bakso, sopir bus, dll. Jangan kita ukur berapa pendapatannya, tapi lihat apa merek telepon selulernya, dan jangan kaget jika telepon seluler anda kalah canggih dan mahal dengan mereka. Tony Blair, mantan perdana menteri Inggris, baru memiliki telepon seluler setelah ia tak lagi menjabat, dan yang ia beli hanya Nokia 5110. Di Indonesia tipe tersebut sudah kategori masuk museum. Obama sendiri merek telepon selulernya ‘hanya’ Blackberry, saat ini tipe ponsel tersebut sangat lazim dipakai di masyarakat kita. Produk tercanggih dan termahal apapun di dunia jika sudah masuk pasar Indonesia, akan ‘dipaksa’ untuk diproduksi massal, ‘dipaksa’ untuk laku, siap tidak siap.

Lexus, sebuah produsen mobil premium asal Jepang, diproduksi terbatas, dikonsep untuk melayani pasar Eropa dan Amerika, hanya melayani berdasarkan pesanan, namun saat masuk pasar Indonesia, Lexus membuka showroom untuk pertama kalinya di dunia. Di Indonesia, Lexus harus siap diperlakukan sama dengan Toyota Kijang, Isuzu Panther dan sebagainya. Tidak ada pengertian ‘harga mahal’ di Indonesia, yang ada hanya ‘harga tinggi’.

Alasan kedua adalah sumber daya alam yang luar biasa kaya. Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral pun tidak punya kemampuan cukup dalam menganalisa kekayaan alam kita. Negara-negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Portugal, Swiss mendapatkan status sebagai negara maju karena mendapatkan kekayaan dari negara kita dari hasil eksplorasi tambang dan penjualan rempah-rempah (kina, sawit, lada, kemenyan, dll) selama beratus-ratus tahun. Dan tetap saja belum habis kekayaan kita.

Artikel Majalah TIME pada bulan Juni 1946, Sukarno menjadi cover depannya, menggambarkan kekhawatiran pelaku ekonomi dan masyarakat Belanda atas masa depan mereka setelah Indonesia tidak lagi menjadi bagian dari mereka (Indonesia dinamakan Netherlands Indie/Hindia Timur, Belanda dinamakan Hindia Barat).  Bahkan masyarakat Belanda sangat ketakutan bahwa nantinya mereka akan menjadi negara termiskin di benua Eropa.

“We’ve already lost our trade with Germany. If we lose Indonesia too, The Netherlands will become one of the poorest countries on the Continent. If Indonesia really wants complete freedom, we are not going to stop it and we cannot stop it. But we Netherlanders sincerely hope the Indonesians have some common sense left” -Pieter de Jong

Mencari Presiden Yang Mau

Tidak usah kita persoalkan dan menghitung seberapa kekayaan kita, yang pasti faktor bahwa kita luar biasa kaya adalah faktor kenapa kita tidak perlu pusing-pusing memikirkan siapa presiden kita berikutnya, karena Indonesia pasti akan baik-baik saja siapa pun presidennya.

Kita tidak membutuhkan orang yang pintar, manajer handal, kharismatik, dan semacamnya, untuk menjadi seorang presiden. Yang kita perlu, hanya siapa yang mau jadi presiden, karena manusia Indonesia adalah juragan kaya raya, dan akan sangat terganggu gengsinya jika juragan ikut berebutan jadi kacung. Juragan itu menyuruh (memberi mandat) kacungnya dan kemudian memberi bayaran kepada yang disuruh.

Alasan yang mungkin kurang kita sadari, mengapa Indonesia penting di mata Amerika, adalah bahwa Indonesia merupakan laboratorium dunia. Layaknya laboratorium, segala unsur dan zat kehidupan ada di Indonesia, berjuang dan bertahan selama beribu-ribu tahun. Bukan hanya alam dan spesiesnya (salah satunya baru-baru ini ditemukan fosil manusia hobbit -homo florensis- yang membingungkan seluruh pakar antropolog dunia) namun juga ideologi dan agama pun kondusif tumbuh berkembang di Indonesia.

Prestasi terbesar manusia Barat adalah demokrasi, menurut mereka, puncak dari segala peradaban moderen diukur dari tingkat demokratisasinya. Di lain sisi perkembangan politik Islam dunia makin cenderung ke arah ekstrem setelah era Revolusi Iran,  dan 9/11 adalah titik kulminasi kekhawatiran akan terancamnya peradaban modern versi Barat, Dengan status Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dan (jangan lupa) Indonesia juga menyandang status negara demokrasi dengan biaya terbesar di dunia, tentu sangat menggairahkan bagi Amerika dan negara ‘barat’ untuk melihat dengan seksama dinamika politik Indonesia ke depan.

Seluruh dunia sedang memperhatikan kita, tingkah polah kita, perilaku kita.

Sincerily Smile

Apa yang membedakan Barack Obama dan George W Bush? Program ekonomi? Politik luar negeri? Iya, tapi tidak seluruhnya. 59 persen masyarakat Amerika pada Pemilu 2008 lebih mengutamakan manusia daripada sistem. Mereka mengatakan bahwa integritas dan karakter seseorang jauh lebih penting daripada program-program yang ditawarkan. Ekonomi misalnya, dengan sistem kapitalisme yang terbuka (pasar bebas) yang dipakai di Amerika, maka pasar akan naik dan turun dengan mekanisme yang dimilikinya sendiri. Obama menurut pendapat banyak lembaga survey, adalah presiden dengan tingkat transparansi paling tinggi dalam sejarah. Dengan kekuatan sikap terbuka dan mau belajar membuat penampilan Obama pada setiap pidatonya selalu mendapatkan pujian.

Pada wawancara pertamanya dengan Televisi Al Arabiya, Obama tidak segan meminta maaf kepada dunia Islam terhadap apa yang sudah mereka lakukan 10 tahun terakhir. “We’re people, we’ve made mistake”. Terlepas dari terbukti atau tidaknya nanti, yang berbeda dari Obama hanyalah pola komunikasi. Obama mempunyai lansekap etika komunikasi yang dibawanya ke Gedung Putih.

Hillary Clinton sebagai bawahannya pun melakukan gaya sama. Kita bisa rasakan gerakan tubuh, tangannya yang melambai, dan senyumnya. Hillary Clinton selalu menjulurkan tangannya lebih dahulu kepada orang yang dihadapinya, seringkali ia keluar dari jalur protokoler untuk memberikan salam pada wartawan dan orang-orang yang di sekitarnya. Ia selalu tersenyum dan tertawa, dan tertawanya terkadang tampak seperti sumringah (excited) seperti seseorang yang senang karena sudah lama sekali tak bertemu. Baju yang dikenakan pun kasual.

Ironisnya, kontras ketika Hillary bertemu dengan Presiden Indonesia. Presiden kita itu tampak seperti robot yang tinggi besar dan berwibawa, sedang yang satu seperti anak kuliah yang sedang menikmati perjalanan wisata luar negeri.


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s