Epilog Awal Sebuah Tikungan Iblis

Salah seorang penonton bertanya-tanya sesaat setelah ia keluar meninggalkan area pertunjukkan teater Tikungan Iblis, “Dapat tafsir darimana Cak Nun yang menyatakan bahwa Iblis tidak lagi menggoda manusia sejak ia bertemu Muhammad?” Saya spontan menjawab, “Itu tafsir Nadjibiyah.” 

Membanjirnya penonton pementasan teater Tikungan Iblis malam itu tak diperhitungkan panitia. Ruang Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marjuki, Cikini, tempat pementasan dilaksanakan, yang berkapasitas 810 tempat duduk, malam itu terisi penuh. Puluhan penonton yang tak mendapat tiket, tertahan di pintu depan, membuat panitia mengeluarkan tiket tambahan tanpa nomor kursi. Hal yang tak diskenariokan sebelumnya. Alhasil, sepanjang pementasan, terlihat orang-orang yang berdiri sesak saling terhimpit di sepanjang lorong dan di belakang lajur kursi-kursi.

Panitia acara bukanlah para profesional, mereka bukan event organizer. Sebagian besar mereka adalah relawan-relawan yang saban bulan mengadakan acara Kenduri Cinta di pelataran yang berada tak jauh dari lokasi gedung teater malam itu. Saya salah satunya. Pelakon-pelakon teaternya adalah kelompok teater Dinasti, sekumpulan seniman teater era tahun 70 hingga 80-an yang reputasinya melegenda. Cak Nun atau Emha Ainun Nadjib adalah sosok motornya.

Saya bukan penonton teater apalagi pelaku seni teater. Dua kali pernah, saya menghadiri pertunjukkan teater. Keduanya datang atas undangan kawan, pemain teater. Pementasan teater yang terlihat “serius” menjadi hal yang tak terlalu saya sukai pada sebuah pertunjukkan seni.

Malam itu berbeda, seperti saya, sebagian besar pengunjung bukan tipe penonton teater. Skenario durasi pementasan selama tiga jam, juga menjadi kekhawatiran tersendiri, sanggupkah orang-orang yang tak paham disiplin teater ini menikmatinya? pikir saya dalam benak.

Tidak sehoror itu, tak saya duga, penonton menikmati pementasan teater Tikungan Iblis, mereka tak beranjak selangkah pun selama tiga jam berlangsungnya pementasan. Teater Dinasti malam itu membuktikan kemampuannya menyuguhkan teater dengan naskah yang ‘berat’ kepada penonton yang awam.

Dinasti yang Melegenda

Teater Dinasti memiliki karakter khas dan unik, kelompok teater ini lebih memilih panggung teater sebagai medium atau wahana daripada teater an sich. Yang dimaksud teater medium adalah teater sebagai media pengolahan kepribadian manusia bukan aktivitas teater yang berorientasi pada estetisme dan persoalan teknis.

Berikut kutipan Indra Tranggono, pemerhati kebudayaan, pada kolom koran Kedaulatan Rakyat, tentang Dinasti dan letak teater sebagai seni yang membebaskan:

Emha mengintrodusir dua istilah itu: teater medium merupakan aktivitas budaya yang meletakkan teater sebagai media pengolahan kepribadian manusia; sedangkan teater an sich adalah aktivitas teater yang lebih berorientasi kepada estetisme dan masalah teknis.

Bagi Teater Dinasti, manusia adalah makhluk yang memiliki berbagai kemungkinan untuk dikembangkan. Potensi manusia akan muncul jika manusia memiliki kepribadian. Maka mengolah kepribadian menjadi sangat penting dan mendasar. Pengolahan kepribadian akan mengantar manusia kepada inti-inti nilai kehidupan: tanggung jawab, kemandirian, kejujuran, ketulusan, kerja keras, integritas, kecerdasan intelektual/spiritual, sikap sosial, kritis, sikap objektif, toleransi, idealisme dan lainnya. Semuanya itu menjadi modal penting bagi manusia dalam memasuki proses ‘menjadi’ sesuatu.

Di sinilah pentingnya Teater Dinasti: teater disikapi menjadi sekolah kehidupan atau workshop (bengkel kerja) kehidupan, dimana jiwa, mental, pikiran dan kesadaran manusia dibangkitkan dari kondisi dan situasi yang dipenuhi hal-hal yang artifisial (semu), penuh tipu daya, dekaden, disoriented, tak berdaya dan lainnya.

Saya kira, prinsip dan metode pengolahan ini masih relevan untuk dikembangkan hingga kini dalam jagat teater, bahwa ada nilai signifikan dan mendasar yang diperjuangkan dalam berteater. Yakni human dignity (martabat manusia); sebuah persoalan yang menjadi tema besar sejak masa pergerakan, masa kemerdekaan, hingga awal tahun 1980-an, baik dalam sastra, teater, politik maupun bidang kehidupan lainnya.

Kedua, dalam hal orientasi budaya dan estetis, Dinasti memilih nilai-nilai budaya tradisi (Jawa) yang direvitalisasi. Artinya, Dinasti tidak mencomot begitu saja budaya tradisi dari laci masa silam, melainkan melakukan tafsir ulang sekaligus memberi daya hidup baru sehingga selalu aktual.

Orientasi pada budaya tradisi Dinasti turut mempengaruhi perkembangan teater berikutnya, misalnya dalam bentuk teater sampakan (istilah penyair Kirjomulyo) antara lain lewat Gandrik yang ditulangpunggungi oleh beberapa anggota Dinasti: Jujuk Prabowo, Novi Budianto, Butet Kartaredjasa, Saptaria Handayaningsih (almarhumah) dan Neneng Suryaningsih, selain beberapa teaterawan yang bukan anggota Dinasti: Heru Kesawa Murti, Susilo Nugroho, Djaduk Ferianto, Sepnu dan lainnya. Sadar atau tidak, keterlibatan Jujuk, Novi, Butet dalam Dinasti ikut mempengaruhi pertumbuhan Gandrik. Dan hal ini sangat wajar. Apalagi, pada masa-masa awal Gandrik berdiri, Fajar Suharno (sutradara Dinasti) terlibat di dalamnya, antara lain sebagai penulis naskah.

Ketiga, dalam muatan nilai, Dinasti memilih tema-tema sosial, budaya dan politik yang menjadi persoalan kehidupan masyarakat (baca: membumikan teater). Upaya ini tercermin pada pilihan lakon-lakon yang dipanggungkan, antara lain Dinasti Mataram (karya Fajar Suharno), Raden Gendrek Sapu Jagat (Gajah Abiyoso dan Fajar Suharno), Geger Wong Ngoyak Macan (karya Emha, Fajar dan Gadjah Abiyoso), Patung Kekasih (Emha, Fajar dan Simon Hate), Topeng Kayu (Kuntowijoyo) dan Umang-umang (Arifin C Noer), Sepatu Nomer Satu (Agus Istianto dan Simon Hate). Pementasan Dinasti selalu sarat kritik sosial. Sehingga sempat mengalami pelarangan pentas di Yogyakarta pada tahun 1980-an (Patung Kekasih dan Sepatu Nomer Satu). Pelarangan ini menimbulkan protes keras dari para budayawan, antara lain Mochtar Lubis.

Sebagai habitat kreatif, Dinasti tumbuh dalam situasi komunal Yogya akhir tahun 1970-an hingga awal tahun 1990-an. Komunalitas (kehidupan yang guyub) memungkinkan interaksi kreatif para kreator dan para intelektual. Dinasti membuka diri berdialog dengan para seniman lintas bidang dan kaum intelektual. Budayawan Emha Ainun Nadjib menjadi tokoh penting dalam pertumbuhan Dinasti hingga mencapai sosok dan karakternya. Emha telah membuka ruang kemungkinan dalam memandang teater. Teater, di mata Emha, bukan sekadar aktivitas seni pentas melainkan tesis nilai yang kritis atas realitas kehidupan. Seperti pernah dinyatakan di Taman Ismail Marzuki pada tahun 1990-an, bagi Emha hakikat teater adalah sikap kritis yang menyodorkan tesis nilai-nilai baru untuk mendinamisasi kebudayaan masyarakat.

Dengan pendekatan itu, teater dituntut untuk selalu mencari, bereksplorasi dan berinovasi baik pada level ide maupun estetika. Ini dimungkinkan jika teater selalu mampu melahirkan dirinya kembali melalui berbagai terminal pencapaian secara sosial dan secara estetis. Teater akan involutif (berjalan di tempat) jika tidak mampu menghindarkan diri dari establishment (kemapanan).

Tesis Tikungan Iblis

Beberapa pemaknaan ditawarkan oleh Tikungan Iblis. Seperti sosok Smarabhumi yang mengalami metamorfosa dari zaman ke zaman, dalam peran, fungsi, dan tugasnya. Penggambaran dimunculkan dengan berbagai nama dan gelar-gelarnya. Smarabhumi, nama lain dari iblis, menolak dirinya bersalah atas dosa-dosa yang telah manusia perbuat. Kerusakan-kerusakan yang terjadi di bumi bukanlah pekerjaannya, namun karena bodohnya manusia, ketidakmampuan manusia dalam mengendalikan hawa nafsunya.

Pada bagian tertentu, Smarabhumi atau iblis ini bahkan bersalawat atas Nabi. Ia mengakui keagungan dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad, bahkan semenjak bertemu Muhammad ia mengerti alasan mengapa dulu ia diminta bersujud padanya.

Dalam pandangan saya, iblis berbeda dengan setan. Setan adalah energi negatif yang ada dalam diri manusia sendiri, gelombang dan komposisi kekuatan yang berasal dari hembusan nafsu diri manusia sendiri. Energi potensial yang memang diberikan untuk dapat dikendalikan oleh manusia sebagai alat mengkhalifahi alam semesta, mengelola rasa kemanusiaannya sebagai panglima dalam kehidupannya. Iblis dalam banyak tradisi kitab suci agama Semit diceritakan melawan perintah Tuhan dengan tidak mau menyembah manusia.

Manusia dalam Tikungan Iblis diibaratkan seperti keris dan wadahnya (warangka). Pada keris wujud tidak utama, kemuliaannya adalah adalah nilai, kualitas, sepuhan, wibawa, martabat, derajat, kepribadian, karakter, sedangkan wadah atau warangka adalah sesuatu yang membungkus diri dalam fungsi kehidupannya, seperti gelar, jabatan, profesi, negara, demokrasi dll. Keris dan wadah idealnya menyatu dan bekerjasama untuk kebaikan bersama. Iblis melihat manusia hanya akan merusak alam, manusia lebih mementingkan wadahnya, warangka-nya daripada kerisnya. Iblis bertekad akan membuktikan itu pada suatu masa nanti. Hingga ia bertemu dengan sosok manusia sejati (insan kamil) yang menunjukkan kualitas, nilai dan karakter seorang manusia. Sejak itulah Iblis mengerti hakikat manusia dan kenapa ia diperintahkan menyembah manusia pada masa sebelumnya. Repertoar ini digambarkan dengan Iblis meneriakkan “innniii akhooofullloooh! (sesungguhnya aku takut kepada Allah)” dan kemudian bersujud menyembah Allah dalam ketakutannya.

Thesis Tikungan Iblis tidak hanya berhenti disitu. Idajil, sebuah nama lain yang tentunya tak kebetulan ditampilkan, berkonsonan sama dengan nama iblis dalam bahasa Ibrani yaitu Azaziel atau Ajajil. Nama itu (Idajil) konon telah ditemukan dalam naskah Jawa kuno jauh sebelum agama Islam masuk ke Nusantara. Nama-nama karakter dalam naskah Tikungan Iblis lainnya adalah Hasarapala, Hajarala, Jabarala, Makahala tampaknya juga disengaja oleh penulis naskah, juga berkonsonan sama dengan nama-nama malaikat dalam tradisi kitab-kitab suci agama Semit seperti Isropil, Jibril, Mikail.

Mengapa analisis mengenai persamaan konsonan menjadi perhatian saya? Dalam hampir seluruh tradisi literasi timur, konsonan adalah wujud tulisan yang tampak, dimana cara membaca konsonan tersebut dipagari oleh vokal-vokal yang berbentuk simbol-simbol kecil di sekitarnya. Dalam banyak tradisi penulisan Timur, konsonan tampil tanpa huruf vokal, namun disiplin membacanya tetap dapat dibedakan jenis vokalnya (contoh: arab gundul). Arab, India, Jepang, Cina, Jawa dan Nusantara umumnya menggunakan disiplin yang hampir sama. Bedakan dengan tradisi penulisan Barat, dimana konsonan dan vokal adalah dua simbol yang selalu dan harus tampil bersamaan. Yahweh misalnya, yang dipercaya merupakan nama Tuhan yang pertama disebut dalam kitab suci Ibrani, juga merupakan kumpulan konsonan. Sebenarnya, redaksi dari transkripsi yang sebenarnya bukan Yehuwa, Yahweh apalagi Jehovah, tapi YHWH, disebut juga tetragrammaton oleh sejarahwan yang berrarti empat konsonan (tetra = empat, gramaton = huruf). Menurut beberapa ahli, sama dengan Ya Huwa dalam bahasa Arab yang artinya Oh Dia. Merujuk dalam Alquran, Ya Huwa juga menjadi salah satu sebutan Tuhan (qul Huwaallah hu Ahad).

Saya hanya memberikan gambaran bahwa tradisi literasi (tulisan dan lisan) adalah salah satu metode historiograf yang dipakai arkeologi dalam melacak rangkaian peradaban-peradaban yang ribuan tahun hilang, khususnya peradaban-peradaban manusia yang tidak meninggalkan jejak fisik arkeologi karena bancana alam atau hal lainnya.

Lalu apa hubungan itu semua dengan Tikungan Iblis? Disinilah letak thesis itu, apa hubungan antara Jawa dengan Yahudi, bagaimana bisa ditemukan terminologi-terminologi sama tentang subyek-subyek yang sentral dalam perjalanan kehidupan manusia. Dalam diskusi di forum Kenduri Cinta, beberapa kali telah didiskusikan, dikemukakan bahwa Jawa sendiri juga berkonsonan sama dengan Jews dan Jaffa (kota suci dalam tradisi Ibrani). Jawa dalam hal ini bukan upaya feodal dan “narsis” oleh penulis, tapi lebih merupakan simbol dari Nusantara secara umum. Jelas merupakan suatu bentuk bukti arkeologi kebudayaan yang harus terus kita gali bersama, dimana dan kapan ada interseksi kebudayaan dan peradaban antara Yahudi (Jews) dengan Jawa (Nusantara).

Thesis terbaru juga dikemukakan oleh seorang professor arkeologi dari Brazil, Arysio Nunes dos Santos, ia menulis dalam bukunya (Atlantis, The Lost Continent Finally Found) bahwa Atlantis, kota dengan peradaban tinggi di jamannya, telah diketemukan. Menurut buku itu di sekitar Selat Malaka sampai pulau Jawa dan Kalimantan. Pertanyaan berikutnya adalah, siapa manusia Nusantara sesungguhnya?

Garuda Nusantara

Itulah Garuda gagah perkasa yang terbang melintasi langit Nusantara, Garuda dalam naskah Tikungan Iblis adalah manusia Nusantara sesungguhnya.

Itu karena Garuda begitu kuatnya, tak tersakiti oleh luka, tak bergeming oleh rasa sengsara, tak mati-mati dalam derita. Sekuat apapun sangkar yang mengurungnya, tak mampu menghalangi terbang jauh impian-impiannya, sedahsyat apapun penjara yang menghimpitnya, tak sanggup menahan cita-cita kemerdekaannya.

Demikianlah Sang Garuda, gagah perkasa hingga akhir hayatnya, tinggal anaknya, menetas kesepian dari telornya, sangkar adalah angkasa kesempitan hidupnya, pemilik sangkar adalah Bapak dan Ibu tirinya.

Anak Garuda sayapnya tak pernah berlatih terbang, Anak Garuda tidak mengerti kegagahan mengarungi angkasa, Anak Garuda tidak mengalami kemandirian mencari nafkah penghidupannya, Anak Garuda tidak mempunyai sejarah untuk punya cita-cita. Anak Garuda beranak pinak, sosok tubuhnya makin kecil makin kecil, pandangannya makin sempit makin sempit, jwanya makin dangkal makin dangkal.

Anak Garuda turun temurun dari jaman ke jaman, kegagahan dan rasa percaya diri makin hilang, sibuk menghabiskan waktu untuk segala hal yang remeh temeh. Anak Garuda, cucu Garuda, cicit Garuda, cucunya cucu Garuda, cicitnya cicit Garuda, melewati angkasa majapahit, demak mataram, mengabdi kepada raja demi raja yang juga semakin kehilangan Garuda. Akhirnya kaum walanda dari mancanegara, meresmikan pergantian namanya, dari Garuda menjadi Emprit.

Epilog Dinasti

Lalu apakah Teater Dinasti akan melanjutkan thesis Tikungan Iblis dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tersisa setelah pementasan, atau berhenti menjadi suatu epilog drama kehidupan berkesenian? Cak Nun setelah pementasan meminta kami untuk tidak berhenti menafsirkan dan melakukan renungan-renungan atas Tikungan Iblis.

Sungguh suatu momen yang tepat teater Tikungan Iblis dipentaskan pada akhir tahun ini, bukan sebagai akhir, namun menjadi suatu awal dari kebangkitan peradaban Indonesia di masa mendatang, menjadi manusia Nusantara yang sesungguhnya dan menyadari bahwa ia adalah Garuda yang gagah perkasa.

Beberapa hari setelah acara pementasan, saya menerima teks, sepertinya dari salah satu penonton teater Tikungan Iblis. Mengabarkan bahwa ia sudah bertanya kesana-kemari tapi tak ia temukan naskah kitab tafsir Nadjibiyah. Saya lalu membalasnya dengan permintaan maaf, “tafsir nadjibiyah” adalah istilah yang saya ada-adakan.


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s