Belajar di Sekolah

Rian hari ini menjalani hari pertama sekolahnya. 

Berangkat sekolah tampak terasa menyenangkan. Hal yang tak lazim. Entah sejak sekolah kelas berapa rasa menyenangkan itu lambat laun lalu hilang. Lalu menjadi keharusan, rutinitas, berganti dengan malas dan penuh tekanan. 
Mulailah kita memisahkan antara dunia belajar dan dunia bermain. Padahal hakikatnya, setiap waktu adalah belajar, hingga akhir menutup mata.
Albert Einstein pernah menitipkan sebuah pesan pendek untuk anaknya yang berumur 11 tahun, Hans Albert. Selain sebuah pesan singkat tentang semangat belajar, pesan Einstein ini juga menunjukkan bahwa seorang jenius tidak bermain dengan retorika-retorika tapi dengan kalimat yang tajam dan jelas.
I am very pleased that you find joy with the piano. This and carpentry are in my opinion for your age the best pursuits, better even than school. Because those are things which fit a young person such as you very well. Mainly play the things on the piano which please you, even if the teacher does not assign those. That is the way to learn the most, that when you are doing something with such enjoyment that you don’t notice that the time passes. I am sometimes so wrapped up in my work that I forget about the noon meal…

Belajar terus sepanjang hidupmu, Nak. Bodoh adalah saat kamu berhenti belajar. 


Posted in Tak Berkategori

Bukan Milik Saya

Seorang laki-laki datang membawa kardus di tangan dan tas di punggungnya, ia lalu duduk sebelah saya. Pada sebuah kursi panjang untuk empat orang, saya persilakan ia duduk dan saya pastikan tak ada barang yang menghalangi kursi bagiannya. Kami duduk berdua. Ia di ujung satu, saya di ujung lain.

Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta terlihat lengang, dalam ukuran arus balik lebaran, malam itu boleh dikata terlihat lengang. Saya menjemput anak, istri mertua dan adik ipar yang beberapa hari berlebaran di kampung halaman mereka, Pekanbaru. Tak lama, ia memberi kabar bahwa mereka telah mendarat. Tak sabar saya ingin lihat wajah Rian, anak saya. Continue reading “Bukan Milik Saya”

Posted in Tak Berkategori

64 Tahun Cak Nun

Puluhan nama disematkan ke dirinya: Cak Nun, Emha, si Emha, Pak Emha, Mbah Nun, Ainun, Sahan, Yang Mulia Cak Nun, Maulana, dll; nama-nama itu seperti menerangkan begitu multidimensi-nya beliau.

Ada orang-orang yang memahami sisi intelektualnya, meski ia bukan akademisi, tapi Cak Nun selalu mengajarkan cara berpikir yang akademis, logis, rasional, tertata, padat dan komprehensif. Diskusi, seminar, panel di kampus, pemerintahan dan ruang-ruang intelektual ia hadiri hampir setiap hari, hingga kini. Orang-orang ini biasa memanggilnya: Emha, atau Pak Emha. Continue reading “64 Tahun Cak Nun”

Antek-antek

Sulit memang kalau berpikirnya sudah “saya benar, yang lain salah”, apa saja yg dilakukan kelompok (politik, ormas) lain pastilah tercela, kelompoknya lah yang benar. Padahal gak sulit juga kalau mau sedikit lurus menganalisa.

Dengan sedikit akal sehat, kalau saya, kok kayanya sulit percaya siapapun dari ketiga calon gubernur (Agus, Ahok, Anies) punya niat sengaja merusak Jakarta, punya niat korupsi atau berniat “lihat nanti kalo gue jadi Gubernur, gw bakal rampok semua” … kayanya gak lah. Mereka bertiga pasti ingin Jakarta lebih baik, mereka bertiga pasti mau dikenang sebagai pahlawan. Continue reading “Antek-antek”

Puasa Memperbaharui Akhlak

Satu alasan mengapa puasa musti terus dilakukan setiap tahun, mungkin salah satunya adalah sebuah pelajaran agar akhlak kita terus menerus terbaharui. Sebab hal sederhana dalam berpuasa adalah justru bagaimana kita disuruh meninggalkan perbuatan yang halal, bukan yang haram.

Puasa bukan mengajari kita untuk tidak mencuri, tidak menyakiti atau menipu orang lain, bahkan puasa tidak mengajari kita untuk tidak korupsi (eh maaf, korupsi termasuk mencuri, sudah disebut sebelumnya), lebih sederhana dari itu semua; puasa mengajari kita untuk tidak minum teh manis, tidak makan bakwan atau ngemil bakso di siang hari. Sesederhana itu. Continue reading “Puasa Memperbaharui Akhlak”