Kata, Bahasa dan Makna

December 16th, 2009

Beberapa kali melihat banyak tulisan dan prasangka yang meminggirkan teks kata/bahasa. Dalam tulisan ini, sedikit mengurai pembeda diantara beberapa ilmu yang terkait dengan kata/bahasa. Karena penulis bukan ahli di bidang ilmu bahasa, tulisan ini perlu kiranya mendapat koreksi, baik oleh penulis sendiri nantinya maupun oleh pembaca.

Ada masa ketika seorang sahabat* bertutur ke penulis untuk  pentingnya kembali mengeja “alif, ba, tsa, …” Penuturan itu dimaknai penulis sebagai ’suruhan’ untuk belajar lagi ilmu bahasa, tidak secara formal dan baku (EYD) tapi lebih kembali mempelajari asal usul kata, makna kata, filosofi dibalik kata, dan semacamnya.

Etimologi

Etimologi adalah studi mengenai asal-usul juga sejarah dari suatu kata. Termasuk didalamnya bagaimana kata itu terbentuk pada awalnya dan perubahan-perubahan arti yang telah dilaluinya. Bahasa merupakan konsep materi dari pikiran manusia. Etimologi juga mempelajari perbandingan kata dalam bentuk oral maupun dalam bentuk tulisan. Akar kata dapat ditelusuri bukan saja dari susunan huruf yang membentuknya tapi juga dari vokal pengucapannya.

Seperti kemiripan vokal bahasa antara beberapa negara di Afrika dan bahasa di Nusantara, juga menjadi alat melacak pertautan-pertautan historis di keduanya. Bisa nama kota, nama daerah, dsb. Satu-persatu kata, diinterogasi untuk mencari persambungannya.

Menurut Yasraf Amir Piliang, “Kajian etimologi sangat penting dalam pemahaman tentang ontologi (baca:kata), bukan dalam pengertian pembentangan makna kata sebagaimana ia dituliskan dalam kamus, melainkan dalam pengertian upaya menginterogasi asal usul kata, penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari, pergeseran dan perpindahannya, serta perubahan semantiknya dalam rangka mempertimbangkan muatan ontologis kata itu”

Etimologi tidak sekedar ilmu bahasa, seperti banyak dipahami, namun satu pijakan menuju ilmu ontologi, pilar dalam ilmu filsafat.

Hiedegger juga menjelaskan serupa,”Fokus kajian etimologis dalam konteks ontologi adalah, bahwa makna awal sebuah kata dan perubahannya berkaitan dengan pandangan tentang realitas atau masalah yang dipersoalkan, yang untuknya sebuah kata diucapkan. Apa yang menjadi perhatian kajian etimologis adalah bagaimana melihat sebuah realitas, yang telah diberi nama oleh sebuah kamus, ternyata telah berpindah atau berubah”

Etimologi-Fenomonologi-Hermeneutika

Seperti sudah banyak diketahui, hermeneutika adalah studi interpretasi mengenai suatu teks. Sedang fenomonologi lebih ke ilmu sosial yang mempelajari fenomena-fenomena. Pada interseksi ketiga unsur inilah terbentuknya kata dalam kehidupan sehari-hari, dapat jernih dipelajari dan outputnya adalah mendapatkan makna yang (relatif) objektif.

Yasraf dalam bukunya Multiplisitas dan Diferensi juga menyampaikan hal yang senada, “Kajian etimologis dalam konteks fenomenologi-hermeneutika tidak mempunyai pusat perhatian yang sama dengan ilmu bahasa, akan tetapi malah ia melampaui ilmu bahasa itu sendiri. Analisis fenomonologis-hermeneutika dari sebuah etimologi bukan dimaksudkan untuk menghadirkan kembali makna historis -asal dari sebuah kata, sebagaimana ia ditulis di dalam kamus atau ensiklopedia, melainkan menghadirkan  makna dari sesuatu itu sendiri, di dalam ruangnya tindakan eksresi menamai (naming) mendapatkan tempatnya. Dalam memahami dunia, kita harus memberi tanda kutip terhadap penamaan atau definisi-definisi yang berlaku umum tentang dunia tersebut -seperti definisi di dalam kamus- dalam rangka untuk membuka diri terhadap pelbagai kemungkinan makna yang disediakan dunia”

Hati-Hati BerKATA, Kata adalah Doa.

Benar, setelah diingatkan seorang sahabat setahun yang lalu, penulis mulai berhati-hati menggunakan kata. “Hati-hati dalam bahasa Inggris bukan Heart-Heart tapi Be Careful. Orang Indonesia lebih luhur, karena selalu menggunakan HATI-nya dalam setiap apa yang akan dilakukannya” begitu kata seorang teman. Kalimat teman itu juga adalah satu contoh sederhana dari ilmu etimologi-fenomonologi-hermeneutika yang tidak hanya sekadar teori namun diaplikasikan dalam keseharian.

Tulisan ini diakhiri dengan kutipan dari Marleu-Ponty:

… dalam rangka melihat dunia dan memahaminya sebagai paradoks, kita harus membuat jarak dengan pemahaman yang biasa (tentang dunia itu), dan juga, dari kenyataan bahwa dari penjarakkan ini, kita dapat belajar tentang dunia yang tanpa tekanan (makna biasa)

*sahabat yang dimaksud, mengingatkan lewat naskah teater dengan judul ‘Tikungan Iblis’

Keterbatasan

December 8th, 2009

Satu alasan, spesies manusia dapat bertahan hidup selama ribuan tahun adalah kemampuan teknologi otaknya untuk terus mencari-cari jawaban yang dibuatnya sendiri. Keraguan atas kebenaran yang telah ia terima menjadikan sel-sel dalam otaknya terus bekerja sehingga memicu hormon dan sebagainya sebagai alat yang nantinya membuat manusia terus dapat bertahan hidup dalam kondisi seperti apapun. Daniel Dennent, seorang ahli neurologi menulis, “Other species have a very limited ability to reflect and their sensitivities are channeled down rather narrow sets of possibilities. We, human, in contrast, are believe-alls, apparently, to what we can believe and to what we can distinguish in belief”

Singa sebagai contoh, tidak memiliki kemampuan semacam itu. Ketika seekor singa terancam, ia akan mengaum, mengejar dan menyerang, dan kembali ke tempat ia tertidur setelahnya. Seekor kadal pun keluar dari dalam tanah mencari makan hanya ketika ia lapar dan kemudian mengubur diri setelahnya. Tapi makhluk yang bernama manusia selalu dalam keadaan waspada, selalu awas atas segala sesuatu yang terlihat mengancam. Kita tidak pernah merasa yakin bahwa kita punya cukup uang, cukup cinta, cukup keamanan sehingga kita sulit tidur senyaman singa. Kita meminum vitamin, suplemen dan obat-obatan karena kita terus memiliki prasangka bahwa diri kita kurang sehat. Kita berpikir. Kita membaca. Kita belajar. Kita pergi ke tempat-tempat pelayanan spiritual, mempertanyakan eksistensi agama, mencari-cari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dan mengejar kebenaran hakiki. Lalu ketika kita diberi jawaban yang sebelumnya tidak kita sadari, maka sesegera mungkin kita merubah persepsi, keyakinan, kepercayaan kita. Tetapi sekeras apapun kita berusaha untuk terus merevisi peta dalam pikiran kita, tetap saja potongan-potongan informasi baru berdatangan dan menggoyah keyakinan kita.

Sebutlah itu takdir atau memang seperti itulah manusia, tapi dengan ketidakpastian yang (katanya) abadi itu, bagaimana bisa kita meraih kebahagiaan dan kedamaian? Pijakan awal adalah kita mulai belajar untuk tidak perlu menggenggam kebenaran yang absolut. Kita apresiasi saja misteri-misteri yang ada di alam semesta, misteri-misteri di otak kepala kita, memulai belajar menggunakan intuisi untuk meyakini arah spiritualitas. Jika kita mampu melakukan itu, kita dapat tertidur lebih mudah dan nyenyak, seperti seekor singa.

U.S.D.E.K - Sakinah Mawaddah Warahmah

December 8th, 2009

Minggu lalu, keluarga besar saya mengadakan hajatan pernikahan (walimatul ursy) saudara Andrie Sis dengan saudari Rahma Octifiani. Bertempat di Rumah Niekmat Rasa, kota Solo, propinsi Jawa Tengah. Tidak akan istimewa jika saya menulis tentang perjalanan dan romantisme keluarga kami yang memang sangat jarang mempunyai waktu berkualitas (quality time) seperti kemarin. Juga tidak istimewa jika bercerita mengenai betapa rupawannya saya memakai setelan jas lengkap malam itu. :p

Yang layak untuk dibagi adalah format acara yang (menurut saya) sudah menjadi barang langka pada masa-masa seperti saat ini. Pada undangan acara, ditentukan bahwa resepsi dimulai pada jam 19.00, dan tepat pukul 19.30 semua tamu undangan sudah hadir dan duduk di tempat yang telah disiapkan. Sebelumnya, ratusan kursi telah disediakan mengelilingi kursi pelaminan, konsep acara pernikahan dengan duduk di kursi juga sesuatu yang baru selain budaya datangnya undangan yang tepat pada waktunya. ‘Baru’ disini bukan ‘baru’ dalam pengertian ‘tidak ada sebelumnya’ tetapi lebih karena penulis yang tinggal di kota Jakarta, yang ndeso tidak pernah mengenal kebudayaan lokalnya sendiri.

Setelah semua tamu hadir, duduk, maka dimulailah acara, diawali oleh kirab keluarga bersama mempelai berjalan menyusuri para tamu. Saya sedikit bersyukur ketika itu, karena bukan laki-laki telanjang setengah dada dengan baju adat rok jawa dan cara jalan yang sangat amat lamban, yang didepan memimpin kirab kami.

Trauma saya belum selesai, karena pada resepsi pernikahan adik perempuan saya sebelumnya, sosok laki-laki itulah yang memimpin kami kirab. Saya tidak tahu apa istilahnya sosok itu, tapi pasti sosok itu adalah lelaki yang sudah teruji kesabarannya. Saya yang tidak punya kesabaran.

Setelah selesai kirab, berurutan acara berdoa’a dan sambutan dari keluarga. Selesai itu, tiba-tiba saja terdengar lagu celebration dan datanglah puluhan server/penyaji dengan membawa makanan di piring-piring membagikan kepada para tamu undangan. Piring pertama berisi jajanan, sepuluh menit kemudian meraka berhamburan keluar lagi membawa piring berisi sup ayam. Terus seperti itu dengan menu nasi dan lauknya, kemudian ditutup dengan es atau apalah namanya. Sembari piring dengan menu yang sama datang, berlangsung juga foto bersama dan sambutan-sambutan dari para tamu dan keluarga. Hingga selesai pada jam 21.30.

Ada banyak makna didalam format resepsi/hajatan seperti itu. Satu diantaranya adalah bahwa setiap tamu undangan diperlakukan sama layaknya keluarga, tidak ada makanan yang berlebih, tidak ada menu yang berbeda. Juga tidak ada tamu undangan yang harus ngantri berbaris hanya untuk sepiring kambing guling. Tidak seperti format prasmanan yang ‘menjauhkan’ antara mempelai-keluarga dan para tamu, pada format semacam tadi, terasa benar sambungan kekeluargaan yang terjalin. Tentu, budaya setempat juga memberi pengaruh, sehingga terjadi kompabilitas antara tamu yang datang, konsep acara dan makanan yang disajikan.

Tidak lama, Cak Nun berbisik ke saya,”Iki jenenge USDEK, ron. Aku mang lali ngomong” Saya membalas,”USDEK? Opo iku, cak?” Beliau menjawab,”Unjukan (minuman), Sop, Dahar (makan), Es, Kondur (pulang)” …. “oooo, hihihi”

Semoga, semua acara yang sudah dilaksanakan dapat memberi bekal di kemudian hari untuk kedua mempelai. Dan meski tidak semua ustadz tahu apa artinya, kalimat Sakinah Mawaddah wa Rahmah juga layak disampaikan agar menjadi bekal untuk pengantin. Sakinah itu me-rumah atau ngomah, bertempat tinggal namun tidak hanya secara fisik tapi lebih ke rohani. Mawaddah pada dasarnya adalah mahabbah dari kata hubbun/wuddun/cinta. Hampir sama dengan kata warahmah/rohmah, yang pemakaiannya lebih untuk yang bersifat ruhaniah daripada jasmaniah. Perbedaannya adalah jika mawaddah masih ada tersisa pamrih atau alasan untuk mencintai, sedang rohmah tidak. Maka Sakinah Mawaddah belum paripurna jika tidak disertakan Warahmah. Cinta sejatinya Cinta.

Bukan, saya bukan ustadz, juga bukan ahli tafsir. Itu bisikan lain Cak Nun kepada saya di beranda samping, sesaat sebelum beliau pulang kembali ke Jogja bersama KiaiKanjeng, Sabrang, mbak Novia dan keluarga lainnya.

Liar’s Paradox - Persoalan Logika

November 27th, 2009

Bisakah kita memastikan kebenaran dalam satu pernyataan (selanjutnya saya pakai kata ‘statement‘) yang tunggal? Pertanyaan semacam ini telah diajukan dari zaman Socrates, yang berkata, “The one thing that I know is I know nothing - Satu hal yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa” - paradoks, karena Socrates tidak tahu apa-apa maka ia tidak bisa tahu bahwa statement-nya benar.

Manusia cenderung membuat asumsi-asumsi logika mengenai prasangka mereka. Pertama, kita berasumsi bahwa sebagian statement adalah benar (dalam filosofi disebut the law of identity). Kedua, kita seringkali berasumsi bahwa tidak ada dua statement yang sama-sama benar dan salah (the law of contradiction). Ketiga, kita seringkali berasumsi bahwa semua statement salah satunya harus benar atau salah (the law of excluded middle). Jika seorang teman mengatakan bahwa “sekarang sedang turun hujan” … dia dapat  dikatakan berbohong atau jujur. Dua pilihan kemungkinan. Oh ya? Atau mungkin saja, sekarang tidak hujan, namun terjadi hujan dibagian dunia yang lain, kan?

Tapi apa yang terjadi jika seseorang datang kepada anda dan mengatakan bahwa “saya seorang pembohong”? Jika statement-nya benar, maka dia bukan seorang pembohong, jadi statement-nya salah. Tetapi statement tidak bisa salah, karena jika kasusnya seperti itu, maka dia mengatakan yang benar dan dia tidak akan jadi pembohong.

Statement di atas tadi menjadi sebuah contoh model sebuah kontradiksi yang tidak dapat dipecahkan (unresolvable contradiction), karena tidak bisa dikatakan bahwa keduanya benar atau salah. “Lukisan ini indah” juga satu dari banyak statement yang bisa menjadi benar pada satu orang namun tidak pada orang yang lainnya. Secara neurologis, kebenaran dan fiksi adalah nilai subyektif yang diciptakan oleh otak. Sejauh perjalanan sejarah manusia, tidak diperlukan mengetahui sesuatu yang benar secara absolut; cukup dengan menggunakan logika, seperti apa yang didemonstrasikan sebelumnya. Demonstrasi logika diatas disebut Liar’s Paradox atau Paradoks Pembohong. Godel, seorang ahli matematika menggunakan versi itu tadi untuk mengilustrasikan teorinya mengenai ketidaksempurnaan sistem logika simbolik matematika.

Imajinasikan bahwa anda sedang melangkah berjalan menyusuri jalur dan anda sampai pada suatu persimpangan jalan. Disana anda menemui dua orang dan ada tanda yang bertuliskan:

Satu dari dua jalan ini akan menuju pada keselamatan dan yang satunya menuju pada kematian. Dua orang di depan anda, keduanya tahu mana jalan yang menuju keselamatan. Namun, satu diantara mereka selalu berbohong dan yang satunya selalu berkata jujur. Anda hanya dapat menanyakan satu pertanyaan untuk memilih mana jalan yang benar.

Jika saja anda dapat memberikan dua pertanyaan, persoalannya mungkin akan lebih sederhana dan mudah. Anda dapat bertanya kepada satu dari dua orang itu, “berapa jumlah mata yang anda punya” Dan dengan segera, anda akan dapat memastikan yang mana Si Jujur dan yang mana Si Pembohong. Tinggal mengajukan pertanyaan kedua, “kemana jalan menuju keselamatan” yang ditujukan ke satu dari dua orang itu tadi. Sayangnya, anda hanya mendapatkan jatah satu pertanyaan.

Begini solusinya, tanyakan kepada siapa saja yang anda pilih untuk ditanya, apa yang akan dijawab oleh temannya jika anda bertanya ke dia kemana jalan yang benar (menuju keselamatan),  lalu pilihlah jalan yang berbeda/berlawanan dengan yang dijawab. Asumsinya, untuk sementara, jalan A adalah jalan yang selamat dan jalan B adalah jalan yang menuju kematian. Si Pembohong akan mengatakan bahwa Si Jujur akan berkata untuk mengambil jalan B. Sedang Si Jujur akan mengatakan bahwa Si Pembohong akan berkata untuk mengambil jalan B. Dan tentu saja, anda harus mengambil yang berlawanan, yaitu jalan A.

Seperti itulah metode Godel dalam menjelaskan teori logikanya untuk membuktikan eksistensi Tuhan, tetapi pada akhirnya ia terhenti dengan teorinya sendiri yang berimplikasi pada setiap equasi yang berisi asumsi-asumsi yang punya kemungkinan untuk salah. Pada contoh diatas, anda bisa saja berasumsi  bahwa Tanda yang di jalan itu benar adanya. Bagaimana jika Tanda itu ditulis oleh seorang pembohong?

(dikutip dan dibahasakan oleh roniocta, dari buku WHY WE BELIEVE WHAT WE BELIEVE, Uncovering Our Biological Need for Meaning, Spirituality, and Truth - Andrew Newberg, MD dan Mark Robert Waldman)

Tidak. Jibril Tidak Pensiun

November 10th, 2009

Hanya kualitas seorang Nabi yang sanggup me­nampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik.
Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang membantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan ‘radar suci’ setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kaya kita tetap juga memperoleh ilham.

Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk ke­pentingan apa pun saja.
Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model manapun yang bisa menyentuhnya. Tak tersedia kredibilitas keilmuan manusia apapun yang mungkin menerobosnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak, sebagai suatu syahdan, sebagai kemungkinan obyek yang sungguh asing sifatnya - sebab segala teori menjadi lawakan tatkala mendekati-Nya.

Satu-satunya jalan disediakan justru oleh berita wahyu itu sendiri. Tetapi ini makin tidak memuaskan manusia modern, yang canggih untuk bercuriga terhadap dogma, yang seolah-olah sengaja membuang kemampuan-kemampuan kejiwaannya yang tertentu yang bisa ia pakai untuk bergaul baik-baik dengan hidayah, dengan petunjuk ‘entah dari mana’, dengan gudang rahasia keilahian, dengan ketidak-mungkin-tahu-annya sendiri. Ya, manusia modern itu - yang sombong melebihi Musa menjelang Tursina, yang menyangka bahwa kebenaran dan kepastian adalah miliknya yang ia bisa rancang dan tentukan.

Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabbur.
Yang pertama, manusia telah merasa mampu me­nemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu ia menjadi seniman, doktor akademik atau sarjana kehidupan. Yang kedua, berada si ekstrim lain: yang ada hanya Allah, aku ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, aku sekedar rekaan. Karya-karyaku, kata-kataku, musikku, lukisanku, tak bisa kusebut dengan ku, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata.

Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan ia baca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisannya, kita nonton lukisan Allah.
Maka ia mengemukakan kepadaku iman dan konsep mengenai pinjaman ilmu dan harta benda Allah kepada manusia - sebagai mana ia mengemukakan hal yang sama ketika kutanyakan kepadanya apa omongan Islam tentang falsafah hak milik dan distribusi ekonomi yang dewasa ini amat dicemaskan oleh kaum sosialis-marxis.
Itu moralitas Allah.

Seandainya saja kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep itu dalam diri manusia, maka usaha proyeksi dan sis­temasinya ke dalam organisasi-organisasi kebersamaan manusia tinggal ’sekunder’. Tetapi sejarah telah harus mengandaikan manusia seperti ‘maling’ yang - tentu saja tak bisa dipercaya, sehingga harus diciptakan pagar-pagar yang berlebihan. Sistem yang mengatur manusia bersifat substansial, dan manusia berada secara instrumental. Kita adalah gerombolan ayam, memperoleh taburan jagung dari tangan manusia, jago-jago memonopoli taburan itu karena mereka memang ‘tak tahu menahu’ tentang moralitas tangan manusia yang menaburkan jagung. Perlawanan ayam-ayam lain terhadap jago-jago selalu berupa menyingkirkan atau menumpas jago-jago, atau meng­gantikan kedudukan jago-jago.

Demikian ‘psikologi perlawanan’ yang sejauh ini berlangsung: aspirasi terhadap aspirasi, ideologi politik terhadap ideologi politik, kelas terhadap kelas, bahkan kaum wanita terhadap kaum lelaki. Sumber kecenderungan ini ialah karena jagung itu dipandang secara a-historis. Tak dipersoal­kan secara tuntas dari mana jagung tertabur, dan apa moralitas esensial yang terkandung di balik taburan jagung itu. Dengan kata lain, orang makin tak kenal kepada jiwa wahyu.

Maka ia mengemukakan kepadaku Jibril tidak pensiun. Wahyu Allah bukan sebuah dongengan purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus menerus berseliweran. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan - dan tubuh beliau adalah bagian yang paling remeh dari eksistensi kepribadiannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna tapi belum selesai, karena ia akan menemukan kelahiran dan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran umatnya.

Bahwa pada Muhammad disebut wahyu itu berakhir, artinya ialah jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu dan teknologi dahsyat yang dicapai manusia sesudahnya, telah terdapat benih-benihnya dalam al-Quran - meskipun selama ini kita menyebut-nyebut hal itu sekedar untuk hibur-hiburan pasif agar meperoleh ke­percayaan diri sebagai ummat. Allah tidak mengkursus kita bagaimana bikin rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena ken­daraan sepeda telah di­tunjukkan-Nya. Apapun yang kelak digapai oleh ke­cerdasan manusia, tak akan melebihi kapasiatas ke­mungkinan yang telah di-nur-kan oleh wahyu yang berpuncak di Muhammad.

Tetapi, barangkali kita, adalah ummat tolol yang bisa menjadi cukup tenang hanya dengan mengemukakan keyakinan itu, tanpa mengerjakannya, dan kemudian - kata para piawai - “Kita ketinggalan dua abad” di­banding orang-orang lain yang justru ‘acuh tak acuh terhadap Allah’. Mungkin bagi kita Jibril adalah tokoh sejarah pada zaman sebelum Prabu Jayabaya atau candi Borobudur dibangun. Jibril adalah bayangan patung, arca berjubah, makhluk supra-raksasa yang telapak tangannya seluas 3333 kali galaksi, yang eksistensinya sepurba dinosaurus. Atau Jibril itu semacam le­lembut. Dan semua itu tidak konkret.

Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib, di sisi tidur dan jagamu. Namun apabila pengalaman keilahian tidak selalu kita perbaharui, pada suatu hari kita akan sadar seolah-olah kita ini hidup di masa pra-Ibrahim yang menghayati bulan dan matahari untuk menemukan Allahnya. (ean-padhangmbulan)